Flash News
No posts found

Ibarat Debu Merapi, Siswa Bagikan Masker

Siswa SMK Avicena Lasem membagikan masker kepada pengguna jalan, di desa Narukan Kec. Kragan, Kamis siang.

Siswa SMK Avicena Lasem membagikan masker kepada pengguna jalan, di desa Narukan Kec. Kragan, Kamis siang.

Kragan – Prihatin terhadap banyaknya debu akibat jalan rusak, sejumlah siswa dan guru SMK Avicena Lasem, hari Kamis (11 September 2014) menggelar aksi simpatik, dengan cara membagikan masker gratis kepada warga yang melintas di jalan desa Narukan, Kec. Kragan.

Ahmad Sofi Husnan, salah satu guru SMK Avicena Lasem mengungkapkan belakangan melihat jalan rusak antara Sendangwaru – Narukan sampai dengan Pandangan Kragan, tergolong cukup parah. Iring iringan truk pengangkut tambang batu tras, nyaris tak pernah berhenti. Saat siang hari, debu putih pekat sangat mengganggu masyarakat, terutama pemakai jalan dan warga yang mendiami permukiman di pinggir jalan raya. Ia mengibaratkan seperti debu letusan Gunung Merapi. Sebagian besar tidak mengenakan penutup masker, sehingga dikhawatirkan membahayakan kesehatan mereka. Berawal dari kondisi tersebut, pihaknya tergerak untuk membagikan masker gratis. Hanya dalam waktu 15 menit, puluhan masker langsung ludes dibagikan. Paling banyak untuk pengendara sepeda motor. Menurutnya, kalau jalan masih belum diperbaiki, kedepan siswa siap turun lagi, membagikan masker lebih banyak.

Seorang warga yang mendapatkan masker gratis, Jariman mengaku senang. Ia sebenarnya menyadari debu rawan membuat sesak nafas, apalagi hampir setiap hari melewati jalur Pandangan – Sedan. Begitu dapat masker, pria asal desa Ngotet Rembang ini langsung menyampaikan terima kasih. Namun Jariman lebih lega, seandainya pemerintah cepat menangani jalan rusak.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kab. Rembang, Rahardjo menjelaskan sebenarnya pemerintah kabupaten telah menyiapkan anggaran Rp 15 miliar, guna memperbaiki kerusakan jalan antara Pandangan sampai desa Gandrirojo Kec. Sedan. Nantinya tidak diaspal, tetapi dibeton. Lelang tahap pertama lalu, tidak menghasilkan pemenang, sehingga terpaksa harus diulang.

Menurut Rahardjo, pelaksana proyek pasti punya solusi tepat untuk menjamin kualitas jalan, ditengah mepetnya waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *