Flash News
No posts found

Dihentikan Warga, Semua Penggilingan Batu Lumpuh

Ketua RT 01 RW 04 dusun Sumberan desa Pamotan, Sulkan menunjukkan kesepakatan tertulis bermaterai dengan pengelola usaha penggilingan batu, saat pertemuan bulan April 2013 lalu.

Ketua RT 01 RW 04 dusun Sumberan desa Pamotan, Sulkan menunjukkan kesepakatan tertulis bermaterai dengan pengelola usaha penggilingan batu, saat pertemuan bulan April 2013 lalu.

Pamotan – Merasa terganggu oleh debu sejumlah perusahaan penggilingan batu, warga desa Pamotan Kec. Pamotan menghentikan aktivitas produksi pabrik, sejak hari Sabtu.
Sampai dengan hari Senin (15 September 2014) tidak ada satupun usaha penggilingan beroperasi.

Selama ini dusun Sumberan dan dusun Candisari desa Pamotan mengalami dampak polusi debu terparah, karena jaraknya dengan pabrik penggilingan batu, hanya sekira 100 meter.

Kabul, seorang warga dusun Sumberan desa Pamotan menuturkan saat berlangsung penggilingan batu, suaranya bising, membuat masyarakat tidak nyaman. Belum lagi serbuan debu, dari pagi sampai sore hari, mengotori rumah dan cucian pakaian. Masyarakat sering meminta pengelola usaha memperbanyak penyiraman air, untuk mengurangi debu. Menurutnya tidak mungkin harus mengingatkan setiap hari.

Ketua RT 01 RW 04 dusun Sumberan desa Pamotan, Sulkan menjelaskan jumlah pabrik penggilingan batu belakangan ini terus bertambah. Kali pertama 10 tahun lalu, lama kelamaan semakin banyak, bahkan lokasi sebelah timur desa Pamotan tersebut menjelma sebagai pusat industri olahan batu kalsit maupun andesit. Diantaranya Amir Hajar Kilsi konon diduga milik keluarga mantan Bupati Rembang Moch. Salim, Batu Mas, Sinar Terang 1 dan Sinar Terang 2, Musika, KBM, Gunung Mas 1 serta Gunung Mas 2.

Sejak awal berdiri, mereka tidak pernah berkoordinasi dengan warga sekitar. Tapi memang setiap bulan, masing masing pabrik memberikan dana kompensasi kepada warga dusun Sumberan, dengan besaran bervariasi tergantung jumlah mesin pemecah batu. Totalnya per bulan sekira Rp 4 juta, digunakan untuk kepentingan umum, termasuk memperbaiki infrastruktur kampung dan kegiatan karang taruna. Kalau disuruh memilih, warga tetap menghendaki lingkungan yang bersih tanpa gangguan debu, daripada mendapatkan uang kompensasi. Bagaimanapun caranya, masalah tersebut musti menjadi perhatian serius. Jika tidak mampu, sejumlah warganya menginginkan pabrik tutup selamanya saja.

Reporter R2B mencoba mendatangi lokasi penggilingan batu milik PT Amir Hajar Kilsi (AHK), yang paling dekat dengan permukiman penduduk dusun Sumberan. Kami ditemui Kabag Personalia PT AHK, Tuchim. Menurutnya desakan warga agar pabrik berhenti sementara sampai ada kesepakatan berikutnya, akan dituruti. Meski menanggung kerugian puluhan juta setiap hari dan pekerja terpaksa menganggur. Ia mengklaim sudah rutin melakukan penyemprotan kawasan pabrik, tapi tidak tahu dengan pabrik lain. Kalau semua pabrik kompak melakukan cara seperti itu, pasti polusi udara akan mampu ditekan.

Tuchim menambahkan rencananya Sabtu malam mendatang akan diadakan pertemuan lanjutan, lantaran musyawarah di mushola dusun Sumberan Sabtu malam lalu, belum membuahkan kata sepakat. Yang jelas pihaknya berharap solusi terbaik, bagi warga maupun pelaku usaha.

1 Komentar

  1. mbah kung

    PT AHK iku duweke sapa jal…. ?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *