Flash News
No posts found

MEA Mengkhawatirkan Sejumlah Kalangan

Pekerja pengolahan kayu di desa Landoh Kec. Sulang sibuk beraktivitas. Usaha kecil dan menengah diminta siap menghadapi MEA.

Pekerja pengolahan kayu di desa Landoh Kec. Sulang sibuk beraktivitas. Usaha kecil dan menengah diminta siap menghadapi MEA.

Rembang – Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz meminta kalangan usaha kecil menengah untuk bersiap siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Masyarakat Ekonomi Asean dikhawatirkan mengagetkan pelaku usaha kecil dan menengah, apabila tidak dari sekarang meningkatkan kualitas produksi. Pasalnya mulai akhir tahun 2015, produk produk dari negara Asean bisa dengan bebas membanjiri pasar Indonesia. Padahal banyak komoditas yang harganya lebih murah.

Abdul Hafidz mengaku tak ingin MEA justru memperburuk ekonomi masyarakat, khususnya di kabupaten Rembang.

Selain produk negara Asean bebas masuk, tetapi juga memungkinkan tenaga kerja ikut mengais rezeki di Indonesia. Mulai tenaga kerja sektor informal maupun sektor formal. Menurut pejabat asli desa Pamotan Kec. Pamotan tersebut, ada kecenderungan sebagian besar budaya tenaga kerja di sini kurang rajin dan sering melontarkan alasan. Berbeda dengan tenaga kerja di luar negeri. Apalagi jika dibandingkan dengan tenaga kerja di Jepang dan Korea Selatan, tentu sangat jauh, karena mereka benar benar disiplin waktu dan cekatan.

Sementara itu, pengrajin miniatur sepeda di desa Polandak Kec. Pancur, Hasyim mengaku kekhawatiran tetap ada, apalagi jika saling menjatuhkan harga. Meski demikian ia masih optimis dengan jaringan relasi, pangsa pasarnya tidak akan anjlok.

Surono, buruh garap tambak garam di desa Purworejo Kec. Kaliori mengungkapkan belum tahu apakah produk garam negara Asean juga ikut masuk ke Indonesia atau tidak. Tanpa ada pengendalian, ia khawatir garam lokal akan terpuruk.

4 Komentar

  1. ani

    pemkabe ae ra cetho alias amburadul kok mengkawatirkan yang lain.. coba opo kabeh bentuk-bentuk kebijakan pemkab rembang iku wis ana SOP dan alat ukure sing transparan dadi masyrakat weruh?? apa masyrakat wis dilibate wektu nggawe kebijakan berikut ukuran-ukuran standare?? contone pelayanan rumah sakit. piye carane warga ngerti yen deweke dirugikan opo ora wektu jipuk program BPJS kelas 1, kelas 2?? opo ae fasilitas sing iso ditanpa/dinikmati kanggo sing loro? pelayanan jalan raya kaitane karo kerusakan jalan? pelayanan bidang pendidikan?? pelayanan trnaportasi?? pelayanan air bersih? program investasi semen gresik sing ujuk-ujuk warga kudu nampa? opo ae keuntungan langsung kanggo warga per kepala, keluarga, RT. RW, desa dan kecamatan yen ana pabrik semen?? opo ae kerugiane? kabeh kudu jelas dan warga harus memiliki hak yang kuat untuk bersikap dan diperhitungkan dalam kebijakan investasi. kalo tidak maka negara benar-benar sudah dibajak dan dimabil alih oleh para koruptor dan pemodal naka!!!

  2. cocot-nogo

    ….Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangkan…belajarlah menghargai diri sendiri, supaya dihargai orang lain….

  3. Orang Desa

    Saya yakin belum ada sosialisasi ke warga/masyarakat desa dari pihak pemerintah desa, kecamatan atau kabupaten tentang bagaimana menyiapkan diri guna menyambut MEA di 2015 esok. Gimana dong pak PLT?

  4. syukur

    Mafia double anggaran jalan kasus PPID yang bajingan2 dari DPU kapan diproses hukum???

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *