Flash News
No posts found

Boleh Beroperasi, Banyak Syarat Harus Dijalani

Joko Susilo, dari usaha penggilingan batu Gunung Mas menanggapi tuntutan warga, saat pertemuan di kantor kecamatan Pamotan, Sabtu malam.

Joko Susilo, dari usaha penggilingan batu Gunung Mas menanggapi tuntutan warga, saat pertemuan di kantor kecamatan Pamotan, Sabtu malam.

Pamotan – Masalah penghentian pabrik penggilingan batu di sebelah timur dusun Sumberan desa Pamotan, mulai ada titik terang.

Bertempat di kantor kecamatan Pamotan – Rembang, sekira 100 an warga sejumlah dusun desa Pamotan, Sabtu malam (20 September 2014) mendatangi forum pertemuan, untuk membahas masalah polusi debu yang mengganggu permukiman penduduk. Debu diduga berasal dari 9 lokasi usaha penggilingan batu, mengolah batu andesit dan kalsit.

Abdul Rouf, salah satu perwakilan warga desa Pamotan mengungkapkan tidak hanya cepat mengotori lingkungan, polusi juga rawan mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak anak. Keinginan masyarakat menurutnya wajar, agar tidak dirugikan oleh kepentingan pabrik.

Pertemuan kali ini, sebagai tindak lanjut aksi warga yang menutup seluruh usaha penggilingan batu sejak seminggu terakhir. Selain Muspika, hadir pula Kepala Badan Lingkungan Hidup, Purwadi Samsi, perwakilan kantor pelayanan perizinan terpadu (KPPT) dan pihak pengusaha meliputi Amir Hajar Kilzi, Sinar Terang I, Sinar Terang II, Mustika I, Batu Mas, Karya Batu Mulya, Varia Usaha Beton, Unit Traktor Semen Gresik (UTSG) dan Gunung Mas.

Joko Susilo, dari pihak Gunung Mas berharap aktivitas penggilingan batu segera normal kembali. Apalagi telah lama menjadi sumber ekonomi bagi ratusan pekerja. Mengenai tuntutan masyarakat, ia bersama kalangan pengusaha siap bermusyawarah.

Diakhir pertemuan, disepakati pabrik bisa beroperasi lagi, asalkan memenuhi sejumlah persyaratan, yakni rutin memberikan dana kompensasi setiap bulan, menambah perekrutan tenaga kerja lokal, tidak boleh menambah mesin penggilingan baru, masa operasi dibatasi dari pukul 07 pagi sampai dengan 04 sore, libur pada hari Minggu, wajib meningkatkan penghijauan dan menyemprot air di sekitar pabrik. Khusus penyemprotan air, perusahaan bahkan telah menyiapkan sumur bor dan mobil tangki. Para pengusaha menyanggupi, dengan menandatangani kesepakatan tertulis.

Tapi warga mengingatkan, apabila kesepakatan tersebut dilanggar, mereka siap melapor ke desa, selanjutnya diteruskan kepada Muspika Pamotan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *