Flash News
No posts found

Resmi Ditarik, Rawan Memecah Belah Umat

Detail isi buku. (gambar atas) Kepala MTS Walisongo mengecek isi buku, Selasa pagi.

Detail isi buku. (gambar atas) Kepala MTS Walisongo mengecek isi buku, Selasa pagi.

Rembang – Kementerian Agama Kab. Rembang mengirimkan surat edaran untuk menarik buku pegangan guru, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas VII Madrasah Tsanawiyah.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama, Djasim menjelaskan surat edaran tersebut berisi tentang penarikan buku, karena di halaman 14 terdapat kalimat yang menimbulkan pertentangan masyarakat, yakni berbunyi “Berhala sekarang adalah kuburan para wali”. Keputusan untuk menarik buku, berdasarkan surat dari Dirjen Pendidikan Islam. Nantinya akan diganti dengan buku baru. Mengenai kapan didistribusikan, pihaknya menunggu informasi lebih lanjut.

Ditemui terpisah hari Selasa (23 September 2014), Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Walisongo Tasikharjo Kaliori, Muhammad Ali Ahsan mengaku sudah menerima surat edaran Kementerian Agama. Ia mendukung langkah penarikan, supaya tidak menimbulkan polemik.
Kali pertama mengetahui kalimat “berhala sekarang adalah kuburan para wali ” saat mengajar Sejarah Kebudayaan Islam. Karena dianggap bermasalah, khusus materi pelajaran itu tidak dibahas, tetapi langsung diloncati ke materi berikutnya. Buku tersebut sebenarnya penting, demi menunjang penerapan kurikulum baru 2013. Muhammad Ali berharap kelak pengecekan diperketat, sebelum beredar ke sekolah. Cukup disayangkan buku akhirnya tidak terpakai, hanya karena kesalahan satu kalimat saja.

Ketua DPRD Rembang, Majid Kamil menyatakan kalau dibiarkan, kalimat itu rawan memecah belah umat. Apalagi selama ini kaum Nahdlatul Ulama biasa berziarah ke makam para wali, sebagai bentuk penghormatan jasa jasa wali menyebarkan agama Islam.

Salah satu putra KH Maemoen Zubair ini menambahkan penarikan buku sudah tepat, setelah menuai protes dari sejumlah daerah. Besarnya dana yang terbuang percuma tidak sebanding dengan keresahan umat, manakala buku tetap dipertahankan. Di kabupaten Rembang sendiri, perkiraan 42 Madrasah Tsanawiyah telah memperoleh buku tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *