Flash News
No posts found

Petani Beralih Memulung, Enak Mana?

Seorang pemulung melintas di dekat alat berat yang meratakan sampah di TPAS Landoh, hari Kamis (16/10).

Seorang pemulung melintas di dekat alat berat yang meratakan sampah di TPAS Landoh, hari Kamis (16/10).

Sulang – Sejumlah petani beralih profesi menjadi pemulung sampah, karena lahan mereka mengalami kekeringan. Saat nantinya memasuki musim penghujan, kembali fokus menggarap sawah.

Bencana kekeringan di kabupaten Rembang terus berlanjut pada pertengahan bulan Oktober ini. Lebih dari 20 ribu hektar lahan persawahan menganggur, karena kesulitan air. Sebagian besar merupakan sawah tadah hujan.

Pemilik sawah terpaksa harus mencari pekerjaan lain, supaya dapur tetap mengepul. Salah satunya seperti yang dilakukan petani desa Landoh Kec. Sulang. Mereka kini menjadi pemulung di tempat pemrosesan akhir sampah (TPAS) Landoh. Jika pada hari hari biasa hanya ada 30 orang pemulung, belakangan terus bertambah menjadi sekira 40 an orang.

Seorang pemulung, Romlah mengatakan mencari sampah dianggap lebih menjanjikan, karena setiap hari bisa meraup penghasilan antara Rp 20 – 30 ribu. Tapi kalau kelak memasuki musim penghujan, dirinya akan kembali turun ke sawah bercocok tanam padi.

Tempat pemrosesan akhir sampah (TPAS) desa Landoh adalah satu satunya lokasi pembuangan sampah yang dikelola oleh pemerintah kabupaten Rembang.

Petugas TPAS Landoh, Hadi Suyikno menjelaskan sampah dari berbagai kecamatan masuk. Dalam sehari, armada truk membongkar sampah 35 – 40 kali. Sampah jenis plastik cukup banyak. Tentu saja menjadi surga bagi para pemulung.

Hadi menambahkan pihak TPAS tidak pernah membatasi jumlah pemulung. Siapapun boleh datang mengais rezeki dibalik tumpukan dan bau sampah menyengat. Ibaratnya, siklus menjadi petani dan pemulung seperti roda berputar, menyesuaikan musim.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *