Flash News
No posts found

Kecewa, Proyek Dihentikan Paksa

Para pekerja keluar lokasi proyek gudang Alvamart, setelah dihentikan massa, Sabtu pagi.

Para pekerja keluar lokasi proyek gudang Alvamart, setelah dihentikan massa, Sabtu pagi.

Rembang – Ratusan warga desa Pasar Banggi, Rembang, Sabtu pagi (18 Oktober 2014) menggeruduk proyek pembangunan gudang milik mini market terkemuka, Alvamart di pinggir jalur Pantura desa Pasar Banggi.

Mereka menghentikan seluruh aktivitas pekerja dan menutup pintu gerbang, dengan gembok dan rantai. Para pekerja akhirnya memenuhi keinginan massa. Satu per satu keluar dari dalam gudang. Proyek bangunan selama ini dikerjakan oleh kontraktor PT Cahaya Hidup Prima.

Mashudi, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pasar Banggi mengatakan sebelumnya antara pemerintah desa dengan manajemen Alvamart membuat kesepakatan tertulis, berisi 7 butir keputusan.

Semisal kalau gudang beroperasi, perektrutan tenaga kerja lokal diprioritaskan dari desa Pasar Banggi, namun kenyataannya baru 12 orang yang diterima. Kemudian siap membantu menyelesaikan gedung serba guna Pasar Banggi, tetapi belakangan hanya diberi 50 sak semen. Sedangkan keputusan lain, Alvamart wajib memberikan uang retribusi kepada desa Rp 1 juta tiap tahun, membantu even tahunan sedekah laut Rp 2 juta dan sumbangan madrasah Rp 2 juta per tahun. Selain itu, ketika ada lelang kertas dan kardus dari dalam gudang, warga desa Pasar Banggi musti diutamakan.

Mashudi menambahkan warga sebatas ingin menagih janji, supaya Alvamart tidak main main. Tetapi justru tidak ada seorangpun perwakilan manajemen yang menemui pendemo.

Kepala Desa Pasar Banggi, Rasno mengatakan pintu gerbang proyek pembangunan gudang terpaksa ditutup, karena warga kecewa. Pintu baru dibuka, apabila manajemen memastikan kesanggupan atas kesepakatan tertulis yang telah dibuat bersama sama.

Selama demo, tampak sejumlah anggota Polsek Rembang Kota berjaga jaga. Ketika demo berakhir, barulah puluhan anggota pengendali massa Polres Rembang datang. Tak berselang lama, aparat memilih kembali pulang. Situasi cukup kondusif, karena emosi warga tidak sampai berujung pada aksi anarkis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *