Flash News
No posts found

Petani Miskin Diperas, Gara Gara Rencek

Sejumlah warga dusun Siwalan Sukun desa Dadapan Kec. Sedan pulang dari persil hutan, dengan menggendong kayu bakar, baru baru ini.

Sejumlah warga dusun Siwalan Sukun desa Dadapan Kec. Sedan pulang dari persil hutan, dengan menggendong kayu bakar, baru baru ini.

Sedan – Seorang warga miskin di dusun Siwalan Sukun desa Dadapan Kec. Sedan diduga diperas oleh oknum mantri hutan, gara gara kepergok mengambil kayu rencek atau kayu bakar.

Warga tersebut bernama Hasir (46 tahun). Hasir menceritakan kala itu mengambil kayu bakar di sebelah utara kampung Siwalan Sukun, ikut BKPH Gunung Lasem KPH Kebonharjo. Ia merasa tidak mencuri, karena sebelumnya juga sering mencari kayu bakar. Tapi saat pulang, justru dicegat. Kalau tidak menyerahkan uang, diancam akan diserahkan polisi. Karena merasa takut, Hasir akhirnya menyerahkan uang Rp 500 ribu kepada oknum mantri hutan di pos penjagaan, dengan disaksikan 2 orang mandor.

Semula sempat diminta mengeluarkan uang Rp 1 juta, tetapi tidak sanggup. Uang Rp 500 ribu itupun harus pontang panting mencari, baginya sangat berharga. Kebetulan ia merawat sapi milik orang lain, terpaksa menagih upah lebih cepat, untuk membayar “musibah” tersebut.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Rengganis Argo Puro desa Dadapan Kec. Sedan, Zuber Utsman mengaku begitu menerima laporan dari Hasir, pihaknya mengecam tindakan tersebut, karena telah menyengsarakan kaum lemah yang tidak berdaya. Ia bergegas menemui perwakilan Perhutani, mendesak agar uang Rp 500 ribu itu segera dikembalikan. Baru pada Rabu pagi (22/10), Hasir belakangan ditemui petugas Perhutani, uang akhirnya dikembalikan.

Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kebonharjo, Haris Triwahjunita menuturkan pihaknya akan menelusuri terlebih dahulu informasi itu. Kalau memang benar, oknum yang melanggar, pasti akan mendapatkan sanksi.
Menurutnya selama ini KPH Kebonharjo melakukan pengelolaan hutan lestari bersama masyarakat, tentu menghindari tindakan semena mena. Manakala warga menabrak aturan, kali pertama akan dibina dulu.

Haris Triwahjunita menambahkan kayu kategori yang boleh diambil untuk kayu bakar, apabila panjangnya kurang dari 1 meter dan diameternya tidak lebih 4 centi meter. Menurutnya sebagian besar masyarakat sudah memahami aturan tersebut, tetapi jika memang perlu disosialisasikan lagi, pihak Perhutani siap menjalankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *