Flash News
No posts found

Tumpeng Keprihatinan, Punya Cara Lain Mengadu

Warga penolak pabrik semen menggelar acara tumpengan di jalan masuk menuju pabrik semen PT Semen Indonesia, Sabtu malam.

Warga penolak pabrik semen menggelar acara tumpengan di jalan masuk menuju pabrik semen PT Semen Indonesia, Sabtu malam.

Bulu – 50 an warga desa Timbrangan dan Tegaldowo Kec. Gunem, Sabtu malam (25 Oktober 2014) merayakan hari pertama Tahun Baru Islam atau awal sasi Syura di tenda keprihatinan, dekat jalan masuk menuju pabrik semen PT Semen Indonesia, tengah hutan sebelah timur Songkel Mereng desa Kadiwono Kec. Bulu.

Warga melakukan sholat berjamaah, doa bersama dan dilanjutkan tumpengan. Merekapun menikmati makan bersama, dibawah sepinya suasana hutan KPH Mantingan. Ada sejumlah lampu penerangan, listriknya dipasok dari mesin diesel.

Abdul Hamid, seorang tokoh agama desa Timbrangan Kec. Gunem menuturkan sejak pertengahan bulan Juni 2014 atau 4,5 bulan lalu masyarakat penolak pabrik semen mendiami sejumlah tenda. Siang malam bertahan, untuk tetap berkomitmen menolak pembangunan pabrik semen. Pihaknya sengaja mengisi hari pertama bulan Muharram dengan berkumpul, meneguhkan kekompakan, sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Joko Priyanto, warga desa Tegaldowo Kec. Gunem mengungkapkan kaum penolak pabrik semen sudah tak berharap ingin mengadu lagi kepada pemerintah. Menurutnya, tak ada respon memuaskan. Sekarang warga lebih mengandalkan berkeluh kesah dengan Yang Maha Kuasa, berharap kelak tidak sampai terjadi bencana alam, karena maraknya penambangan di kawasan perbukitan Kec. Gunem.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharto menyatakan penambangan menggunakan prosedur ketat, dengan tingkat kedalaman terukur. Masalah dampak lingungan menjadi perhatian utama, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Agung menambahkan pihaknya menghargai pendapat warga yang terus menolak pabrik semen di bawah tenda. Selama tidak mengganggu aktivitas pekerja, kegiatan mereka sementara dibiarkan.
Sudah ada upaya PT Semen Indonesia membuka pintu mediasi, namun kerap kali buntu. Warga menuntut alat berat ditarik, tentu tak bisa dipenuhi. Pembangunan pabrik tetap dilanjutkan, supaya tahun 2017 mendatang bisa beroperasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *