Flash News
No posts found

Ingin Memagari, Rame Rame Tolak Kafe Karaoke

Iring iringan mobil melintas di jalan menuju tapak pabrik semen, tengah hutan desa Kadiwono Kec. Bulu. Belakangan lahan sekitar ring satu menjadi incaran untuk usaha.

Iring iringan mobil melintas di jalan menuju tapak pabrik semen, tengah hutan desa Kadiwono Kec. Bulu. Belakangan lahan sekitar ring satu menjadi incaran untuk usaha.

Bulu – Sejumlah desa di lokasi ring 1 sekitar pabrik semen PT Semen Indonesia, jauh jauh hari menyatakan penolakan, apabila ada yang ingin mendirikan kafe karaoke. Biasanya ketika pabrik besar berdiri, akan diikuti oleh usaha lain, termasuk tempat hiburan.

Kepala Desa Kadiwono Kec. Bulu, Ahmad Ridwan mengakui sejauh ini di desanya memang belum ada rencana kafe karaoke buka. Tapi informasi masyarakat yang disaring pemerintah desa, mayoritas mereka tidak setuju adanya kafe karaoke, karena khawatir mengganggu lingkungan.

Hal senada diungkapkan kepala desa Pasucen Kec. Gunem, Salamun. Menurutnya, kafe karaoke rawan memicu dampak negatif. Daripada kelak meresahkan warga, lebih baik desa sejak awal memagari, dengan cara menolak. Kades berwenang tanda tangan, untuk rekomendasi izin ke Pemkab Rembang. Begitu ada yang minta, Salamun memastikan tidak akan tanda tangan. Tapi apabila usaha lain, seperti warung makan, rumah kontrakan atau kos kosan, tidak masalah.

Wakil Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan, M. Rizqon mengatakan ada dua jenis lahan yakni tanah milik perusahaan Perum Perhutani dan tanah kawasan hutan milik negara.

Saat ini yang disewakan kepada masyarakat adalah tanah perusahaan, sedangkan areal hutan musti steril, sebelum mengantongi izin dari Kementerian Kehutanan. Pihaknya menegaskan khusus kafe karaoke dilarang. Semata mata pihaknya ingin menindaklanjuti aspirasi sebagian besar masyarakat.

M. Rizqon menambahkan sudah 20 an orang yang bekerja sama, menyewa lahan milik Perhutani di pinggir Jl Rembang – Blora, utamanya dari desa Mantingan Kec. Bulu ke selatan.

Meski demikian tetap ada perjanjian, penyewa tidak bisa selamanya menempati lahan. Kalau Perhutani membutuhkan, tentu mereka harus pindah, sesuai masa akhir kontrak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *