Flash News
No posts found

“Stop, Tak Mau Jadi Korban…”

Sejumlah peserta membawa poster sosialisasi. (gambar atas) Sejumlah perempuan berfoto bersama disela sela kampanye damai stop kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Sejumlah peserta membawa poster sosialisasi. (gambar atas) Sejumlah perempuan berfoto bersama disela sela kampanye damai stop kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Rembang – Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz mendorong setiap kejadian kekerasan terhadap anak dan perempuan diteruskan ke proses hukum, bukan justru diselesaikan melalui jalur kekeluargaan.

Abdul Hafidz berpendapat tersangka pelaku musti mendapatkan efek jera. Kalau menempuh cara cara kekeluargaan, dikhawatirkan kasus semacam itu tidak akan menurun.

Selain perlu ketegasan, Hafidz juga menyampaikan kepada masyarakat, terutama kaum muda untuk berpakaian yang sopan. Jika terlalu fulgar dan terbuka, menurutnya rawan memancing seseorang berbuat jahat. Pernyataan tersebut disampaikan saat kampanye damai stop kekerasan anak dan perempuan di Stadion Krida Rembang, hari Senin (27 Oktober 2014).

Kapolres Rembang, AKBP Muhammad Kurniawan menduga faktor lingkungan dan mudahnya mengakses video porno, berpengaruh terhadap tingginya angka pencabulan. Ia memastikan setiap korban yang melapor akan mendapatkan pendampingan, supaya kondisi psikologisnya cepat pulih.

Sementara itu, kegiatan aksi damai stop kekerasan terhadap anak dan perempuan diawali dari halaman Stadion Krida, menyusuri Jl Pemuda – Jl Slamet Riyadi dan kembali lagi ke stadion. Ribuan pelajar, pegawai negeri dan sejumlah elemen masyarakat ikut berpartisipasi.

Siti Kurniawati, seorang pelajar dari Madrasah Aliyah Walisongo Paloh desa Tasikharjo Kec. Kaliori mendukung arahan Pelaksana Tugas Bupati. Setidaknya dengan menutup aurat, tak sekedar untuk pencegahan, tetapi juga menggangkat derajat kaum wanita.

Jika merunut data di Polres Rembang, kasus kekerasan dengan korban anak dan perempuan pada tahun 2011 lalu sebanyak 40 kasus, tahun 2012 mencapai 35 kasus, tahun 2013 turun menjadi 19 kasus. Namun diperkirakan tahun 2014 kembali melonjak. Pemkab Rembang bersama aparat TNI – Polri meminta kepada camat maupun kepala desa, agar kampanye stop kekerasan ini diteruskan ke lapisan masyarakat tingkat bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *