Flash News
No posts found

Proyek Dihentikan, TNI – Polri Datang Meredam

Anggota TNI – Polri menengahi warga desa Bangunrejo Kec. Pamotan, yang menghentikan pengeboran sumur bantuan pemerintah, hari Jum’at.

Anggota TNI – Polri menengahi warga desa Bangunrejo Kec. Pamotan, yang menghentikan pengeboran sumur bantuan pemerintah, hari Jum’at.

Pamotan – Sekira 20 an orang warga desa Bangunrejo Kec. Pamotan, Jumat pagi (31 Oktober 2014) menggeruduk lokasi proyek pengeboran sumur bantuan pemerintah, yang berlokasi di sebelah timur kampung.
Mereka meminta pekerja sumur menghentikan pengeboran, karena khawatir akan mematikan sumber air lainnya dan memperparah kekeringan lahan pertanian.

Semula kali pertama proyek pengeboran berlangsung di dusun Nglongko desa Bangunrejo. Baru mengebor sedalam 9 meter, warga Nglongko protes. Padahal menurut rencana air juga akan diperuntukkan bagi masyarakat Nglongko. Oleh pihak desa, proyek sumur bor dipindahkan ke timur desa Bangunrejo. Lagi lagi di tempat yang baru ini juga menuai protes, terutama dari petani sekitar. Pengeboran sempat berjalan sejak hari Kamis dan pada Jumat pagi, mencapai kedalaman 24 meter.

Bayu Eko Waluyo, warga desa Bangunrejo Kec. Pamotan menyayangkan kenapa penetapan titik sumur yang baru, tidak dimusyawarahkan dulu. Ia mencontohkan lahan pertanian di dusun Nglongko, dulu ketika musim kemarau air masih berlimpah. Tapi setelah ada sumur bor, belakangan lahan mengalami kekeringan. Tentu pihaknya tak ingin hal itu terjadi lagi.

Seorang petani warga desa Bangunrejo yang memiliki sawah di dekat sumur bor, Sarno meyakini kalau kedalaman sumur bor diatas 100 meter, rawan berdampak buruk terhadap sektor pertanian. Petani kecil seperti dirinya sebatas mengamati pengalaman dari tahun ke tahun. Ia merasakan betul, betapa sulitnya sekarang menanam jagung pada musim kemarau. Tentu berbeda jauh dengan kondisi sebelumnya. Maka Sarno nenyarankan lokasi sumur bor dialihkan ke lokasi lain yang lebih tepat.

Begitu digeruduk, pekerja sumur bor asal Karanganyar Solo memilih menuruti kehendak masyarakat. Heru, salah satu pekerja mengaku merugi rata rata Rp 150 ribu per hari. Tapi karena hanya diperintah oleh panitia desa, nantinya tetap akan menuntut ganti rugi. Menurut Heru di titik pengeboran yang baru, dari kedalaman 80 meter, sudah mencapai 24 meter. Bahkan airnya keluar cukup deras. Ia berpendapat keberadaan sumur tidak akan menyedot sumber lain, apalagi air bawah tanah memiliki jalur sangat banyak.

Kepala Desa Bangunrejo Kec. Pamotan belum bisa dikonfirmasi, karena masih berada di luar kota, Jumat siang. Namun sejumlah anggota Polsek dan Koramil Pamotan sempat mendatangi lokasi.

Sujak, petugas Babinkamtibmas Polsek Pamotan mengingatkan warga jangan sampai bertindak anarkis. Seketika langsung dijawab kompak, tidak akan ada main hakim sendiri. Menurutnya wajar kekeringan terjadi di mana mana. Debet mata air sekelas Sumber Semen Sale saja, pasti turun selama musim kering.

Sujak menyerahkan sepenuhnya masalah tersebut kepada pihak desa. Kalau perlu diundang petugas Dinas Energi Sumber Daya Mineral, untuk ikut menjelaskan struktur air bawah tanah, berdasarkan kajian ilmiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *