Flash News
No posts found

Aparat Diam Saja, Warga Gregetan

Salah satu proyek jalan beton di Kec. Gunem. Metode pembasahan seperti ini cukup penting, supaya jalan beton awet.

Salah satu proyek jalan beton di Kec. Gunem. Metode pembasahan seperti ini cukup penting, supaya jalan beton awet.

Rembang – Sejumlah kalangan menuding Pemkab dan DPRD Rembang kurang kontrol terhadap proyek pembetonan jalan yang belakangan sudah mulai rusak, padahal terhitung masih baru.

Muhammad Widad, dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kab. Rembang mengatakan kebanyakan jalan beton yang retak maupun muncul rekahan cukup lebar adalah proyek dengan nilai dibawah Rp 200 juta.
Ia menduga sejak awal Dinas Pekerjaan Umum melakukan penunjukan langsung pelaksana proyek, sehingga rawan permainan. Muncul kekhawatiran hal itu justru berimbas pada lemahnya pengawasan atau bahkan cenderung dibiarkan. Kalau masyarakat sekitar cuek, tentu akan lebih berbahaya, padahal dana yang dipakai merupakan uang rakyat. Widad mendesak DPRD cepat turun tangan mengambil langkah langkah nyata, jangan nantinya ikut arus, pura pura tidak tahu.

Sumarno, seorang warga di Kec. Sumber membenarkan jalan beton ruas Sekarsari – Megulung, kemudian Grawan – Ngebrak, Karangsekar – Pengkol, Banggi Petak – Sidomulyo sudah retak retak. Saat ini rekahan kian meluas, karena tidak ada penanganan sama sekali. Ia menantang aparat penegak hukum segera mengecek lokasi. Kalau memang ada dugaan korupsi, mustinya polisi atau jaksa jangan diam saja.

Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kab. Rembang, Rahardjo mengklaim tahapan pengawasan tetap berjalan. Sama sekali tidak benar pihaknya melakukan pembiaran. Ketika proyek selesai dan melewati masa pemeliharaan 6 bulan, tentu DPU mengecek, hingga akhirnya proyek diserahkan kepada pemerintah. Selama itu pula tidak menemukan penyimpangan. Setelah diterima Pemkab, baru muncul kerusakan. Ia memperkirakan karena bobot muatan melebihi aturan tonase, salah satunya truk tebu dan pengangkut pasir. Meski demikian pihaknya tidak memungkiri kemungkinan ada tahapan pengerjaan betonisasi yang tidak sesuai.

Rahardjo menambahkan Bidang Bina Marga sangat terbuka mendapatkan kritik maupun masukan dari masyarakat, untuk bahan perbaikan kedepan. Apabila memang berlanjut ke proses hukum sekalipun, pejabat asal dusun Bagel desa Mondoteko Rembang ini menegaskan harus siap menanggung konsekuensi selaku pengguna anggaran.

2 Komentar

  1. jujur

    raharjo mendem, kalo jalan dibuat itu hancur karena dilalui truk tebu dan pasir??? ya ditutup saja jalannya untuk umum.. pakai saja jalan antar desa dan kecamatan itu untuk jagongan dan main kasti!!! dasar mendem bisanya membiarkan korupsi dan tutup mata!

  2. Orang Desa

    Harusnya pejabat di DPU bisa membuka mata, tolong ya dilihat kalau di Kabupaten Rembang itu kan memang banyak truk pengangkut material ataupun tebu, harusnya bisa menganggarkan dan menghitung kebutuhan jalan supaya tidak mudah rusak. Truk tebu dan pasir kok dijadikjan kambing hitam, mereka juga butuh bekerja Pak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *