Flash News
No posts found

Masih Dibatasi, Enggan Memathok Tarif

Nyai Calon Arang beraksi, saat pentas kethoprak pelajar SMA N Sumber di lapangan Mondoteko. (gambar atas) Para pemain tak lupa berfoto selvie dulu di belakang panggung.

Nyai Calon Arang beraksi, saat pentas kethoprak pelajar SMA N Sumber di lapangan Mondoteko. (gambar atas) Para pemain tak lupa berfoto selvie dulu di belakang panggung.

Rembang – Paguyuban seni kethoprak pelajar Siswo Mudho Budoyo dari SMA N Sumber, enggan memathok tarif pentas, khawatir kalau nantinya dinilai “menjual” siswa.

Guru Bahasa Jawa SMA N Sumber yang merangkap sutradara kethoprak pelajar, Siswadi Joko Santoso mengatakan pihaknya mengembangkan seni kethoprak, semata mata untuk menyalurkan bakat siswa dan melestarikan budaya adiluhung masyarakat Jawa. Maka ketika ada yang ingin order group kethoprak SMA N Sumber, dibatasi untuk kalangan tertentu, salah satunya dalam kegiatan dinas – instansi. Itupun nominal pembayarannya disesuaikan dengan kebutuhan pentas, jauh dari misi komersil. Khusus warga punya kerja, seperti khitan atau pernikahan, belum dilayani, karena siswa harus tetap fokus belajar, menjalankan tugas tugas pokoknya. Dengan kebijakan semacam itu, beruntung para pelajar bisa menikmati, tanpa harus dipaksa paksa.

Untuk menyambut Hari Kesehatan Nasional, pada Sabtu malam (01 November 2014), group kethoprak SMA N Sumber unjuk kebolehan di lapangan desa Mondoteko Rembang, mengambil lakon Banjaran Airlangga mengisahkan perjuangan Airlangga yang ingin menyatukan sejumlah daerah, sebagai cikal bakal Kerajaan Kediri.

Anita, siswi kelas XII SMA N Sumber mengaku bersama rekan rekannya mematangkan persiapan selama satu minggu. Selain menata gerak tari dan menghafalkan dialog, pelajar asal desa Sudo Kec. Sulang ini menganggap adegan saat Nyai Calon Arang marah marah menjadi bagian paling sulit. Anita mengungkapkan seni kethoprak, memang butuh fokus perhatian lebih, karena menyatukan seni tari, bela diri dan drama. Setelah ikut manggung, uang bayarannya lebih banyak ditabung. Kemungkinan sudah terkumpul sekira Rp 500 ribu.

Secara umum, jalannya pentas kethoprak berlangsung lancar, dengan disaksikan ratusan orang penonton.

Rufidah, salah satu penonton mengapresiasi semangat pelajar bermain kethoprak. Masih adanya sejumlah pemain yang tampak kaku, menurutnya wajar. Tapi kalau jam terbang pentas bertambah, pasti kelak tidak akan canggung lagi. Ia juga menyarankan lain kali sebelum pertunjukan dibeberkan dulu cerita singkat lakonnya, supaya penonton paham. Pasalnya dalam beberapa adegan, suara pemain terdengar tidak jelas, lantaran pengaruh kualitas audio kurang bagus.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *