Flash News
No posts found

Pilih Mundur, Kecewa Penyanderaan

Nelayan Rembang usai pulang melaut dari perairan Masalembu, baru baru ini.

Nelayan Rembang usai pulang melaut dari perairan Masalembu, baru baru ini.

Sarang – Buntut dari penyanderaan 15 kapal dan 375 nelayan asal Kab. Rembang di Pulau Masalembu Kab. Sumenep Madura Jawa Timur, membuat Nurwahid, wakil ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kab. Rembang memutuskan untuk mengundurkan diri.

Nurwakhid yang juga mantan Kades Sarangmeduro Kec. Sarang ini menganggap sudah 28 tahun mengabdikan diri dalam organisasi HNSI, memperjuangkan nasib para nelayan, baru sekarang menghadapi tindakan sewenang wenang sekelompok masyarakat di Masalembu. Pihaknya sudah berupaya melakukan negosiasi, pendekatan kepada pemerintah dan aparat, sekaligus diblowup media massa. Tapi kenyataannya sama sekali tidak mempan. Para penyandera tetap memaksa minta uang tebusan yang konon dikabarkan mencapai Rp 50 juta per kapal. Kalau dikalikan 15 kapal, maka totalnya sudah Rp 750 juta. Ia mempertanyakan komitmen pemerintah dan aparat keamanan, apalagi sekarang juga sudah ada Kementerian Kemaritiman.

Menurutnya jelas jelas kapal nelayan dari Kec. Sarang dan Kragan Rembang, tidak melanggar batas maksimal 12 mil dari Pulau Masalembu, tapi kenapa tetap saja ditangkap warga sana, sementara perangkat negara sama sekali tidak berdaya untuk menghentikan pemerasan tersebut. Kalau sudah seperti itu, buat apa tetap berada di HNSI. Mundur merupakan langkah terbaik, meskipun banyak rekan rekannya melarang.

Sementara itu pasca peristiwa penyanderaan di Masalembu, memicu kekhawatiran nelayan lain dan ujung ujungnya akan berdampak terhadap penurunan hasil tangkapan ikan.

Pegawai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karanganyar Kec. Kragan, Muhammad Pamuji membenarkan selama ini di perairan sekitar Masalembu utara Pulau Madura, memang banyak ikannya, sehingga menyedot nelayan Jawa Tengah. Nelayan kini akan berpikir dua kali mendekati pulau tersebut. Lebih baik mencari pulau lain yang tidak beresiko. Pamuji menilai uang tebusan Rp 50 juta setiap kapal termasuk cukup besar. Pemilik kapal yang akhirnya harus bertanggung jawab.

Sebelumnya, tanggal 02 Oktober 2014 lalu, 15 buah kapal dan 375 ABK nya disandera sekelompok nelayan di Masalembu. Kala itu nelayan mencari ikan pada jarak 20 mil dari Pulau Masalembu. Versi nelayan Rembang tidak menabrak aturan, karena Undang Undang membolehkan pencarian ikan diatas 12 mil. Namun bagi sebagian masyarakat Masalembu, ternyata mereka mempunyai kearifan lokal, seharusnya nelayan luar beroperasi diatas jarak 30 mil. Mereka juga marah, lantaran rumah ikan (rumpon) yang terpasang di dalam laut mengalami kerusakan, tanpa kejelasan siapa yang merusak.

Tim perwakilan dari Kab. Rembang sudah datang menjemput ke Masalembu. Kapal dan nelayan baru dilepas, hari Jumat setelah uang tebusan dibayarkan. Korban penyanderaan mulai tiba di Sarang, Sabtu siang.

2 Komentar

  1. tresno segoro

    saatnya untuk semua merenung dan berpikir secara airf dan bijaksana bagaimana supaya lautan yang menjadi tanggungjawab kita sendiri itu tetap bisa mencukupi kebutuhan ikan, bukan dirusak dan menggunakan alat-alat yang dilarang oleh undang-undang. saatnya para nelayan juga memikirkan pentingnya terumbu karang dan ikan-ikan dan telornya yang masih kecil itu untuk tetap utuh dan tumbuh besar. bukan semua dirusak untuk kebutuhan hari ini. wilayah kita di rembang sangat luas, tapi semua akan habis kalo semua pihak semata-mata hanya datang untuk mengambil dan merusak…

  2. sinyo

    Harusnya kalau tidak tahu masalahnya gak usah komentar deh…. nanti malah anda berdosa karna membuat berita yang menyesatkan, jumlah ABK yang ditahan dari 15 kapal itu 309 Orang dan ketua II HNSI kalau mau mundur dari kepengurusan memang sudah tepat itulah wujud dari tanggung jawab karena kasus ini harusnya HNSI berada di depan tetapi….. emang kita sayangkan karena HNSI saat rapat awal banyak bicara begitu mau berangkat malah gak ada yang berangkat bahkan Teleponnya pun semua tidak diaktifkan malah Tim yang akan berangkat menunggu berjam-jam dan dijemputpu tidak ada dirumahnya…… ya…. sebaiknya ngambil sikap yang tepat… itu kami salut dari pada berkoar-koar saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *