Flash News
No posts found

Menyakitkan, Jadi Mesin ATM

Ketua HNSI Kab. Rembang, Muslim.

Ketua HNSI Kab. Rembang, Muslim.

Lasem – Seni hadrah dianggap sarana positif untuk mensyiarkan agama Islam. Hal itu yang mendorong Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lasem menggelar kegiatan lomba [/caption]Sarang – Penyanderaan kapal dan ratusan nelayan dari Kab. Rembang di Pulau Masalembu Sumenep Madura, hari Minggu (09 November 2014) masih menjadi pembicaraan hangat ditengah masyarakat, terutama kaum nelayan.

Pasalnya kejadian tersebut merupakan aksi penyanderaan terburuk bagi nelayan Kab. Rembang sepanjang sejarah kegiatan melaut mencari ikan. Meski tidak sampai memakan korban jiwa, namun pemilik kapal harus menyerahkan uang tebusan Rp 750 juta kepada masyarakat Masalembu, untuk membebaskan 15 kapal dan 375 nelayan.

Samian, salah satu pemilik kapal warga desa Bajingjowo Kec. Sarang mengatakan dirinya termasuk yang ikut berangkat ke Pulau Masalembu. Butuh perjuangan berat, untuk sampai menuju pulau tersebut. Dari Sumenep ke Masalembu naik kapal, setidaknya membutuhkan waktu 11 jam. Sebagian besar mengalami mabuk laut, karena ombak cukup besar. Sesampainya di dermaga Masalembu, keanehan mulai terasa.

Pemilik kapal dijemput dengan menggunakan sepeda motor, kemudian dibawa ke sebuah lokasi, sedangkan perwakilan aparat serta Dinas Kelautan Dan Perikanan Kab. Rembang, dibawa mobil aparat. Ia menanyakan kenapa dibedakan, bukankah seharusnya menjadi satu bersama sama.

Tapi pihak penjemput sebatas menjawab, semua demi menjaga situasi tetap terkendali. Samian menduga upaya negosiasi dikondisikan hanya untuk pemilik kapal saja, agar mudah ditekan. Padahal sejak awal pemilik kapal menghendaki perundingan di Kantor Syahbandar, melibatkan banyak pihak.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kab. Rembang, Muslim sebelumnya mengatakan tiap kali ada kapal disandera di Masalembu, hampir pasti pemilik kapal musti menyiapkan uang tebusan.

Embel embel semacam itu bisa menjadi sarana mencari cari kesalahan nelayan pendatang. Entah dengan alasan merusak rumpon ikan, melanggar jalur penangkapan atau tuduhan lain. Ia khawatir mereka akan ketagihan, kemudian kapal yang dianggap bersalah berfungsi sebagai mesin ATM.

Muslim menambahkan karena masalah penyanderaan telah menyeret kedua provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka pihaknya menyerahkan proses lebih lanjut kepada Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Jawa Tengah, yang kebetulan juga diketuai tokoh nelayan Sarang dan mantan Ketua DPRD Rembang, Djoemali. Menurutnya, HNSI perlu serius mendesak pemerintah menghentikan aksi pemerasan, supaya tidak menimbulkan kasus lebih besar dikemudian hari. Terkait rencana melapor ke jalur hukum, sejauh ini masih dimusyawarahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *