Flash News
No posts found

Mengancam Pekerjaan, Minta Reklamasi Dihentikan

Aktivitas pencari latoh di pinggir pantai desa Manggar Kec. Sluke. (gambar atas) dua anak menunjukkan latoh.

Aktivitas pencari latoh di pinggir pantai desa Manggar Kec. Sluke. (gambar atas) dua anak menunjukkan latoh.

Sluke – Pada awal musim penghujan ini menjadi berkah bagi warga di pesisir pantai antara desa Manggar sampai dengan Sendamulyo Kec. Sluke. Pasalnya mereka bisa memanen latoh untuk urap, mirip rumput laut yang banyak tumbuh di terumbu karang.

Para pencari latoh langsung turun ke laut, berendam sambil mengamati beningnya air. Latoh tinggal mencabut disela sela batu karang.

Darmini, salah satu warga dusun Pendok desa Manggar Kec. Sluke mengaku mencari latoh dari pukul sembilan pagi hingga menjelang sore.
Karena setiap kilonya hanya laku seribu rupiah, dalam sehari meraup penghasilan Rp 20 – 25 ribu. Memang tak sebanding dengan perjuangan merasakakan dinginnya ombak dan seringnya kaki terkena batu karang tajam.

Tak hanya orang dewasa, sejumlah anak anakpun giat membantu. Muhammad Rifky Maulana misalnya.
Ia menganggap mencari latoh cukup mudah, yang penting berbekal semangat. Uang hasil penjualan, kemudian ditabung.

Tokoh warga desa Sendangmulyo Kec. Sluke, Sarosa menjelaskan latoh tidak selalu ada setiap hari, namun bersifat musiman, ketika kadar garam air laut meningkat. Karena menempel di batu karang, ia meminta Pemkab Rembang melarang pengurukan laut atau reklamasi. Kian maraknya reklamasi, kedepan dikhawatirkan mematikan pekerjaan pencari latoh.

Sarosa menambahkan pencari latoh biasanya menyetor kepada tengkulak. Mereka beberapa kali pernah mencoba menjual sendiri di pasar, agar memperoleh penghasilan lebih besar, namun ternyata barang lama laku dan terancam rusak.

Maka warga sekarang lebih memilih menjual ke tengkulak, meski dengan harga sangat murah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *