Flash News
No posts found

Kasihan Buruh, Sopir Tak Tega

Seorang pekerja mengubah tarif lama BBM di depan SPBU Ngotet, Selasa siang. (gambar atas) antrean warga di SPBU Ngotet menjelang Selasa dini hari.

Seorang pekerja mengubah tarif lama BBM di depan SPBU Ngotet, Selasa siang. (gambar atas) antrean warga di SPBU Ngotet menjelang Selasa dini hari.

Rembang – Setelah pemerintah resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), stasiun pengisian bahan bakar umum di Kab. Rembang penuh antrean masyarakat yang ingin mendapatkan bensin dan solar dengan harga lama.

Antrean warga terjadi sampai menjelang Selasa tengah malam, ketika harga baru akan mulai berlaku. Bensin dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500, sedangkan solar dari Rp 5.500 merangkak hingga Rp 7.500 setiap liter.

Di SPBU Ngotet – Rembang misalnya, deretan sepeda motor maupun mobil berjajar sampai perempatan Galonan, jauh keluar SPBU.

Seorang warga Perumahan Mondoteko Rembang, Budiman mengaku sengaja datang antre, sekedar untuk mendapatkan bensin harga lama. Terkait kebijakan harga BBM naik, ia mendukung saja, asalkan negara bertambah maju.

Di sejumlah titik jalur Pantura, panjangnya antrean pembeli menuju SPBU mengakibatkan kemacetan. Salah satunya di Pom bensin perbatasan Rembang – Lasem. Polisi berjaga jaga hingga Selasa dini hari, untuk mengantisipasi gangguan Kamtibmas.

Sementara itu, Ali, warga desa Weton selaku sopir angkutan Rembang – Sulang menjelaskan tarif penumpang umum yang semula Rp 4 ribu dinaikkan menjadi Rp 5 ribu. Tapi ia merasa kasihan terhadap kaum buruh yang menjadi langganannya. Terpaksa tarif diturunkan Rp 3 ribu sekali jalan. Kalau seandainya buruh diberi upah Rp 25 ribu per hari, kemudian dikurangi ongkos transport Rp 6 ribu pulang pergi, tentu sangat kasihan. Tapi mau bagaimana lagi, awak angkutan juga butuh memberikan setoran kepada pemilik angkutan, beli BBM dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Pendapatan sopir Rp 30 ribu, menurut Ali sudah cukup bagus.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informatika Kab. Rembang, Suyono mengatakan pihaknya bersama Organisasi Angkutan Darat (Organda) belum menetapkan kenaikan tarif angkutan baru, karena harus menunggu surat dari kementerian Perhubungan. Namun kalau awak angkutan sudah menaikkan tarif sendiri, ia menganggap wajar, asalkan jangan terlalu tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *