Flash News
No posts found

Ancam Demo, Pemerintah Tak Serius

Limbah salah satu pabrik di desa Purworejo langsung mengalir ke laut. (gambar atas) Muhammad isrori, petambak yang belum berani memasukkan air laut, karena hitam pekat.

Limbah salah satu pabrik di desa Purworejo langsung mengalir ke laut. (gambar atas) Muhammad isrori, petambak yang belum berani memasukkan air laut, karena hitam pekat.

Kaliori – Sejumlah tambak udang vanamei di Kec. Kaliori terbengkalai, belum bisa dialiri air laut, hari Minggu (23 November 2014). Penyebabnya karena air laut yang masuk menuju saluran dekat tambak berwarna hitam pekat, diduga terpengaruh oleh pencemaran limbah pabrik yang banyak berjajar di pinggir laut, antara desa Banyudono sampai dengan Purworejo Kec. Kaliori.
Salah satunya tambak udang vanamei milik Muhammad Isrori, terletak di sebelah selatan jalur Pantura dusun Ngelak desa Tasikharjo Kec. Kaliori.

Pria asli dusun Ngelak yang tinggal di Yogjakarta tersebut mengaku cemas melihat air laut semakin hitam kecoklatan. Apabila tetap dipaksakan masuk ke dalam tambak, sudah pasti bibit udang berukuran kecil akan langsung mati. Daripada menanggung rugi, ia terpaksa menunggu air sampai jernih. Hanya saja hal itu sulit dipastikan, selama pabrik masih membuang limbah pengolahan ikan ke laut. Lebih lebih jika mereka menggunakan bahan kimia. Sabtu malam, belasan petambak menggelar pertemuan di desa Tasikharjo. Surat tertulis berisi nota protes siap dilayangkan kepada Pemerintah Kabupaten Rembang. Jika nantinya tidak ada tanggapan serius, masyarakat petambak siap menggelar aksi demo.

Muhammad Isrori menambahkan satu petak tambak udang vanamei ukuran 40 x 50 meter, menghabiskan anggaran sekira Rp 225 juta. Dari proses awal hingga masa panen, butuh waktu tiga bulan.

Kepala Desa Tasikharjo, Sutono menjelaskan dugaan pencemaran limbah tak hanya memukul sektor udang vanamei, namun juga membuat kualitas garam tidak sebagus dulu. Lama kelamaan dikhawatirkan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat konsumen garam. Berulang kali sudah disampaikan kepada pemerintah. Sayangnya hasil uji laboratorium sample air limbah belum pernah ada informasi seperti apa hasilnya dan bagaimana tindak lanjutnya. Kalau dibilang bosan, memang membosankan. Tetapi akan terus diperjuangkan, mengingat tambak adalah sumber penghasilan masyarakat di Kec. Kaliori.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Rembang, Purwadi Samsi mengklaim saat pengecekan pencemaran bulan November tahun 2012 dan 2013 silam, hasilnya tidak melebihi ambang batas. Khusus menanggapi keluhan kali ini, pihaknya berjanji hari Senin akan datang mengecek asal usul limbah. Tentu tak bisa langsung disimpulkan penyebab pencemaran dari limbah pabrik, karena harus dibuktikan lewat uji laboratorium. Namun ia mengakui sebagian besar perusahaan membandel, tak mengolah limbah sebagaimana mustinya.

Purwadi Samsi menambahkan kedepan sikap pemerintah akan dipertegas. BLH siap melayangkan surat tertulis bagi perusahaan yang melanggar aturan. Tiga kali tidak diindahkan, operasional pabrik dihentikan sementara, sambil menunggu kesiapan instalasi pengolahan air limbah. Sejauh ini BLH baru sebatas menyampaikan himbauan dan teguran lisan. Harapannya dua kepentingan sama sama jalan, antara aktivitas pabrik dengan sektor pertambakan tidak saling mengganggu.

Seorang pekerja pabrik pengolahan ikan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan pembuangan limbah ke laut lebih mudah dan murah. Begitu menerapkan sistem instalasi pengolahan, selain ribet, juga butuh biaya besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *