Flash News
No posts found

Surat Dilayangkan, Korban Terus Berjatuhan

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kab. Rembang, Purwadi Samsi (memakai topi) berkoordinasi dengan pegawainya, membahas masalah pencemaran laut, Senin siang.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kab. Rembang, Purwadi Samsi (memakai topi) berkoordinasi dengan pegawainya, membahas masalah pencemaran laut, Senin siang.

Kaliori – Kepala Desa Tasikharjo Kec. Kaliori, hari Senin (24 November 2014), melaporkan secara tertulis, dugaan pencemaran laut dari pembuangan limbah pabrik kepada Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz, dengan tembusan kepada Badan Lingkungan Hidup (BLH) serta Dinas Kelautan Dan Perikanan.

Kepala Desa Tasikharjo, Sutono menjelaskan di dalam laporan tersebut berisi tanda tangan puluhan orang perwakilan nelayan, pemilik maupun penggarap tambak. Mereka memprotes adanya limbah pabrik, seraya menuntut Pemkab Rembang serius mengatasi.

Saat surat dilayangkan, sejumlah petambak udang dan bandeng di dusun Wates desa Tasikharjo semakin kelimpungan, hari Senin. Ribuan udang milik Laksono terpaksa dipanen dini, meski belum waktunya, karena sebagian besar mati. Kemudian 1.500 an ekor bandeng milik Nyuwito juga mati mendadak.

Nyuwito menceritakan semula menyedot air saluran dari laut menggunakan mesin diesel. Baru lima menit, ikan bandengnya langsung terkapar mengapung. Setelah ditelusuri, air baku berwarna hitam pekat dan baunya busuk. Nyuwito menimpali dukungan aksi demo tak hanya datang dari desa di Kec. Kaliori, namun desa desa di Kec. Batanganpun siap memback up, karena ikut terkena dampak. Sementara bisa ditenangkan, sambil menanti upaya pemerintah.

Menanggapi masalah tersebut, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kab. Rembang, Purwadi Samsi menuturkan pihaknya Senin pagi mengerahkan pegawai Bidang Pencemaran dan Pengawasan, untuk mengambil sample air limbah. Nantinya akan diuji laboratorium ke Semarang.
Biaya sekali tes mencapai Rp 700 ribu, itupun menunggu paling cepat selama sebulan. BLH sudah berupaya membina pengusaha pabrik pengolahan ikan untuk mematuhi aturan. Belum lama ini pihaknya mendatangkan instruktur dari Universitas Diponegoro Semarang, guna melatih perusahaan di Kec. Kaliori membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Soal biaya menurutnya nomor dua, yang paling utama adalah kemauan.

Purwadi Samsi menambahkan siap menggelar inspeksi mendadak (Sidak), ke pabrik pabrik.

Jika menjumpai pelanggaran, menurutnya sanksi berjenjang akan diterapkan. Mulai dari teguran tertulis sampai penghentian sementara operasional. Tindakan tegas bisa saja langsung dijatuhkan, namun menurutnya musti memperhitungkan dampak ke depan, termasuk nasib tenaga kerja pabrik.

1 Komentar

  1. suara warga

    yen ora iso tegas luwih becik mundur wae.. mergo kehadiran pabrik ikan ini ibarat pedang bermata dua.. sudah banyak korbannya tidak hanya petani tambak, tapi juga petani sawah dan masyarakat sulang-bulu dan sekitarnya karena mengambil air bawah tanah tidak sesuai aturan. sudah banyak temuan di lapangan soal berkurangnya debit air untuk pertanian dan macetnya sumber air rumah tangga. Pabrik ikan ini menimbulkan pengeburan air bawah tanah merajalela dan tak terkendali, dinas ESDM dan BLH tak mampu mengendalikan dan menertibkan Air Bawah Tanah yang merugikan masyarakat banyak. akibat lainnya jalan aspal sering rusah karena truk pengangkut air bocor sepanjang jalan tanpa ada penertiban dari pihak terkait. jika tidak patuh terhadap aturan yang ada ada baiknya untuk ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku. karena kenyataan banyak menimbulkan masalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *