Flash News
No posts found

Gunung Brenjang, Menyimpan Potensi Bencana

Rekahan tanah dari Gunung Brenjang melintasi jalan antara Trenggulunan – Lemahputih.

Rekahan tanah dari Gunung Brenjang melintasi jalan antara Trenggulunan – Lemahputih.

Rembang – Gunung Brenjang di kawasan perbukitan antara desa Trenggulunan Kec. Pancur dengan desa Lemahputih Kec. Sedan, patut diwaspadai ketika musim penghujan tiba. Pasalnya di lokasi tersebut sudah muncul rekahan tanah sepanjang 50 an meter, diduga karena tanah Gunung Brenjang terbuka dan dimasuki air hujan. Kalau tidak ada antisipasi sejak dini, Gunung Brenjang rawan mengakibatkan bencana tanah longsor skala besar.

Kepala Desa Trenggulunan Kec. Pancur, Sunarto mengatakan pada musim penghujan tahun 2013 lalu, tanda tanda alam mulai tampak. Jalan antara Trenggulunan – Lemahputih putus di beberapa titik, lantaran terdorong pergerakan tanah dari Gunung Brenjang di sebelah timurnya.

Rekahan juga menjalar sampai jembatan masuk desa Trenggulunan. Pihaknya belum lama ini pernah mengundang Muspika Pancur maupun Sedan, untuk langsung mengamati, dengan tujuan mendapatkan prioritas penanganan.

Salah satu yang harus diutamakan yakni penataan saluran air di kanan kiri jalan, guna menampung gelontoran air dari atas. Belum lagi penambangan batu cukup marak, sehingga daerah resapan air semakin berkurang. Namun Sunarto menyayangkan belum ada perhatian. Pihaknya tak bisa membayangkan bagaimana kalau kaki bukit longsor dan dalam waktu bersamaan banyak pengguna jalan melintas. Ia sebatas berdoa kekhawatiran semacam itu tidak sampai terjadi.

Sementara di desa Bendo Kec. Sluke, warga setempat yang tahun lalu terkena longsor tebing jalan, memilih keluar rumah, tiap kali turun hujan deras.

Drajat, kepala desa Bendo mengakui masyarakat masih trauma. Ia mendukung cara cara semacam itu, sekaligus untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa. Warga memang seperti memahami siklus tahunan, mengingat bertempat tinggal di daerah perbukitan.

Drajat menambahkan di dusun Garsuwung desa Bendo, kebetulan sudah ada alat deteksi bencana tanah longsor.
Ia meminta kepada warga yang mengurusi piranti tersebut, untuk mengecek kembali kondisinya masih bagus atau tidak.

Alat deteksi penting, karena bisa mengeluarkan bunyi sirine, ketika terjadi pergerakan tanah. Begitu mendengar sirine, warga di bawah bukit bisa cepat menyelamatkan diri.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, Suharso menuturkan berdasarkan ramalan Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika, puncak musim penghujan di wilayah Kabupaten Rembang pada rentang waktu bulan Desember – Januari mendatang. Apabila hujan deras 2 – 3 jam, warga di desa desa rawan bencana musti lebih waspada.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *