Flash News
No posts found

Tinggal Pilih, Dari Ramah Anak Hingga Khusus Difabel

PLT Bupati Rembang dan para pejabat mengamati kloset buatan warga desa Sendangmulyo Kec. Kragan.

PLT Bupati Rembang dan para pejabat mengamati kloset buatan warga desa Sendangmulyo Kec. Kragan.

Pamotan – Karena merasa prihatin terhadap kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan, mengilhami sejumlah kalangan untuk membentuk Paguyuban Pengusaha Peduli Sanitasi Rembang atau disingkat PAPPSIR. Tak hanya membuat kloset berbagai jenis berbahan baku lokal, namun mereka juga melayani pembuatan WC.

Seluruh kegiatan produksi dipusatkan di desa Sendangmulyo Kragan. Saat kegiatan deklarasi stop buang air besar sembarangan di desa Kepohagung Kec. Pamotan, hari Senin (24/11), hasil karya kelompok ini dipamerkan, seperti kloset ramah anak hingga kloset khusus penyandang disabilitas.

Solihati, seorang pengurus Paguyuban Pengusaha Peduli Sanitasi Rembang mengatakan rata rata setiap kloset dibandrol Rp 50 ribu atau lebih murah dibandingkan dengan harga kloset di pasaran yang berasal dari buatan pabrik. Pihaknya menyasar masyarakat kalangan menengah ke bawah, diharapkan mampu mempunyai WC sendiri.

Kegiatan deklarasi stop BAB sembarangan di Balai Desa Kepohagung juga memajang foto foto kegiatan bantuan pembuatan WC di 14 kecamatan.

Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengatakan kalau dulu masih banyak warga buang air besar di tengah sawah, pinggir sungai, pinggir pantai maupun di bawah rumpun bambu, alangkah baiknya segera dihentikan. Hal itu akan merugikan masyarakat sendiri, karena berdampak negatif terhadap kesehatan lingkungan. Pemerintah menggelontorkan dana Rp 75 juta setiap desa, untuk membantu membuatkan WC bagi warga kurang mampu. Harapannya empat tahun mendatang, sudah tidak ada lagi BAB sembarangan.

PLT Bupati Rembang, Abdul Hafidz bersama rombongan pejabat Kementerian Kesehatan sebelum acara sempat meninjau salah satu WC warga desa Kepohagung Kec. Pamotan. WC tersebut kebetulan dipakai oleh sejumlah kepala keluarga, lantaran keterbatasan biaya.

Slamet, salah satu warga desa Kepohagung mengakui membuat WC butuh ongkos sampai Rp 3 juta. Yang paling mahal adalah membeli material dan membayar tenaga tukang. Karena belum punya dana, sementara kloset satu dipakai bergantian beramai ramai.

Slamet mendukung program pemerintah untuk terus mengkampanyekan sanitasi yang sehat dalam keluarga. Ia menyadari kalau keluarga sehat, akan memberikan andil daerah dan negarapun ikut sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *