Flash News
No posts found

Semarang – Surabaya Terancam, Bina Marga Salahkan Penambang

Saluran air di sekitar Pelabuhan Tanjung Bonang dianggap masih amburadul.

Saluran air di sekitar Pelabuhan Tanjung Bonang dianggap masih amburadul.

Sluke – Pemerintah desa Sendangmulyo Kec. Sluke mengeluhkan dampak lingkungan, setelah pelabuhan Tanjung Bonang semakin luas.

Kepala Desa Sendangmulyo, Asrori mengatakan ada dua efek negatif yang dirasakan masyarakat. Pertama terkait dengan kerusakan bagian selatan jalur Pantura di seberang pelabuhan, sebagian besar kawasan perbukitan gundul, karena dikepras untuk lahan sejumlah pabrik dan tanahnya untuk menguruk proyek pelabuhan.

Tiap kali turun hujan deras, jalur Pantura depan Pelabuhan terendam banjir. Padahal sejak kecil sampai sebelum ada pelabuhan, bencana seperti itu tidak pernah terjadi. Baru baru ini hujan tidak begitu deras, langsung memicu banjir. Apalagi jika nantinya puncak musim penghujan, ia khawatir jalur Pantura Semarang – Surabaya putus.

Pihaknya mendorong dinas terkait segera menata saluran drainase di dekat pelabuhan. Kondisi saluran sekarang terlalu kecil, sehingga tidak mampu menampung gelontoran air berlumpur dari selatan. Desa Sendangmulyo pernah mengerahkan puluhan pemuda untuk membersihkan dan menata saluran dengan peralatan manual, tapi kurang efektif.

Selain masalah potensi banjir, Asrori menambahkan dampak kedua berupa ancaman abrasi atau erosi pantai. Dengan pengurukan area pelabuhan sepanjang itu, hantaman ombak ke desa kanan kiri pelabuhan bertambah kuat. Kalau tidak diimbangi dengan talud penahan gelombang, menurutnya sudah pasti akan merugikan masyarakat. Tambak dan tanah permukiman banyak yang tergerus.

Kepala Seksi Ketentraman Dan Ketertiban Kantor Kecamatan Sluke, Bambang Suharyanto menjelaskan banjir dan abrasi menjadi fokus perhatian, menghadapi musim penghujan maupun musim ombak baratan.

Pihaknya telah melaporkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang. Khusus antisipasi banjir Pantura mustinya ditangani oleh Dinas Bina Marga, sedangkan penanganan abrasi, diusulkan kepada pemerintah. Lebih lebih sepanjang pinggir pantai Jatisari, Manggar sampai Sendangmulyo Kec. Sluke rata rata belum dilengkapi talud. Beberapa desa ring satu pelabuhan harus diprioritaskan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) jalur Pantura Rembang – Batas Jawa Timur, Danang Triwibowo ketika dikonfirmasi mengaku kecewa dengan aktivitas penambangan tanah uruk, karena menutup saluran di sisi selatan jalan. Bina Marga pernah melayangkan surat protes, tapi tak ditanggapi. Danang meminta masyarakat jangan asal menuntut pemerintah melebarkan saluran. Ia beralasan seandainya saluran masih utuh, lokasi depan pelabuhan tidak akan sampai terjadi banjir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *