Flash News
No posts found

Kombunsu : Dari Buta Aksara, Menjadi Wirausaha

Instruktur menunjukkan cara mengukur baju kepada warga belajar. (gambar atas) baju yang dihasilkan warga belajar PKBM Budi Utomo Sluke.

Instruktur menunjukkan cara mengukur baju kepada warga belajar. (gambar atas) baju yang dihasilkan warga belajar PKBM Budi Utomo Sluke.

Sluke – Di kecamatan Sluke ada sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang menampung banyak warga buta aksara. Setelah terbebas dari buta aksara, mereka kini dididik berwirausaha, supaya mampu mandiri. Apa saja materi yang diberikan ? berikut liputannya.

Kondisi PKBM Budi Utomo desa Sendangmulyo Kec. Sluke cukup ramai, Senin pagi (06 Juni 2016). Di tempat ini, menjadi saksi ratusan warga belajar terbebas dari belenggu buta aksara. Mereka yang semula tidak bisa baca tulis, karena tak sempat mengenyam pendidikan formal, sekarang lambat laun lulus kejar paket A, B, bahkan paket C.

Begitu merasakan manfaat pendidikan, warga yang umumnya kaum ibu rumah tangga, sekarang giliran memperoleh bekal ketrampilan dari pengurus PKBM. Salah satunya menjahit. Mereka diajarkan bagaimana caranya mengukur badan, membuat pola, mengoperasikan mesin jahit, sampai pakaian jadi.

Salah satu warga belajar asal desa Jurangjero Kec. Sluke, Nurjanah menyambut antusias pelatihan tersebut, karena bisa menjadi modal untuk membuka usaha maupun bekal kalau sewaktu – waktu masuk pabrik garmen. Menyusul informasi akan berdiri pabrik garmen di Kab. Rembang. Apalagi kegiatan menjahit gratis, dengan mendatangkan instruktur yang berpengalaman.

Warga belajar yang mahir menjahit, hasil dari pelatihan sebelumnya, diberdayakan dengan membentuk usaha konveksi Kombunsu atau kepanjangan Komunitas Bunda Sendangmulyo.

Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Budi Utomo, Sutrisno menuturkan warga belajar mulai sanggup membuahkan karya – karya, seperti baju seragam sekolah dan seragam kantor. Menurutnya, warga belajar jangan hanya selesai mengikuti program kejar paket, namun juga menjelma sebagai pengusaha – pengusaha baru.

Sutrisno menimpali setelah usaha konveksi berjalan, pihaknya juga menggandeng warga belajar lain di Kec. Sluke, guna mengembangkan jaringan usaha. Pembuatan ikat pinggang menjadi target berikutnya. Ketika ada pemesan seragam, warga belajar juga bisa melayani ikat pinggang.

Dengan bekal keuletan dan kesabaran, warga yang dulu menyandang buta aksara, diharapkan kelak akan lebih terangkat nasibnya. (MJ – 81).

1 Komentar

  1. Konveksi jogja

    sangat menginspirasi, semoga bisa nular…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *