Flash News
No posts found

Disorot Warga Karena Beras Hangus, Panitia Mengaku Semakin Pusing

Jatah Raskin.

Jatah Raskin.

Sedan – Sejumlah warga desa Karas Kec. Sedan menyoroti pembagian Raskin yang mirip sistem hangus. Artinya kalau terlambat mengambil dari jadwal yang ditentukan, penerima tidak mendapatkan jatah.

Baligh Muaidi, seorang warga desa Karas mengungkapkan beberapa warga sempat mengeluh, waktu itu pembagian Raskin berlangsung hari Sabtu. Namun belakangan ada yang terlambat, kemudian memilih mengambil Raskin hari Senin dan Selasa pekan berikutnya. Tapi begitu sampai ke Balai Desa, ternyata Raskin sudah habis.

Baligh mengaku heran, apakah pengambilan Raskin, siapa cepat dia dapat. Tentu tidak tepat, kalau seperti itu. Apalagi jika yang belum kebagian beras adalah warga benar – benar miskin dan sangat membutuhkan.

Menanggapi keluhan itu, Sekretaris Desa Karas Kec. Sedan, Kasturi membeberkan jatah Raskin setiap bulan sebanyak 9.510 kilo gram. Mestinya jumlah penerima 634 kepala keluarga. Namun belakangan ini, setiap bulan terus terjadi penambahan kepala keluarga. Padahal jatah Raskin dari pemerintah tetap. Kondisi tersebut memusingkan panitia tingkat desa. Akhirnya Raskin terpaksa dibagi ke 1.900 an kepala keluarga.

Konsekuensinya, jatah Raskin per KK tidak utuh 15 kilo gram. Khusus tudingan sistem hangus, Kasturi menegaskan bukan seperti itu. Ia lalu menceritakan stok Raskin sebagian besar sudah diambil masyarakat. Ketika tinggal sisa sedikit, ada penerima datang. Bulan sebelumnya mendapatkan 15 kilo gram, tapi kini dikurangi, menyusul penambahan KK. Yang bersangkutan menolak, sehingga jatah beras diberikan kepada warga lain. Setelah beras habis, baru muncul tudingan miring. Kasturi menimpali jangan diartikan beras dijual atau ditilep panitia.
Justru pihaknya mengusulkan supaya program Raskin dihapus saja dan digantikan kebijakan lain yang tepat sasaran. Untuk jangka pendek, setidaknya pemerintah bisa menambah jatah Raskin.

Pada awal tahun 2017 mendatang, pemerintah pusat berencana menghilangkan program Raskin. Nantinya diganti dengan voucher pangan yang akan disampaikan langsung kepada rumah tangga sasaran. Voucher tersebut bisa digunakan untuk menebus beras, telur atau bahan pokok lainnya di pasar, warung maupun toko. Selain kualitas barang diharapkan lebih baik, masyarakat juga mendapatkan nutrisi berimbang.
Manfaat lain, pedagang Sembako bisa mendapatkan tambahan peluang usaha. Sedangkan fungsi Bulog, dikembalikan untuk menstabilkan harga beras dan kebutuhan pokok. Terkait wacana tersebut, Sekdes Karas, Kasturi juga ragu berjalan efektif, apabila pendataannya asal – asalan. Ujung – ujungnya aparat desa terkena imbas protes dari warga sudah kaya, namun tetap saja ngotot ingin memperoleh bantuan pemerintah. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *