Flash News
No posts found

Kaget, Ketika Tahu Sisi Lain Buah Bakau

Instruktur melatih pelajar tentang buah bakau yang bisa digunakan untuk pewarnaan batik tulis, Kamis pagi.

Instruktur melatih pelajar tentang buah bakau yang bisa digunakan untuk pewarnaan batik tulis, Kamis pagi.

Rembang – Buah tanaman bakau (Mangrove) yang kerap menjadi limbah tak terpakai, ternyata bisa dimanfaatkan untuk pewarnaan alami dalam pembuatan batik tulis.

Hal itu diungkapkan Cahyadi Adhe Kurniawan, salah satu instruktur pelatihan batik tulis memakai bahan baku buah mangrove, Kamis pagi (04 Agustus 2016). Kegiatan pelatihan yang diprakarsai Dinas Kelautan Dan Perikanan Kab. Rembang itu, berlangsung di Hutan Bakau desa Pasar Banggi dan Hotel Pantura selama dua hari. Sebanyak 40 siswa SMP dari Kec. Kaliori, Rembang dan Lasem mengikuti pelatihan tersebut.

Cahyadi menjelaskan buah mangrove yang rontok diambil, kemudian direbus air. 1 kilo gram buah biasanya menghasilkan bahan pewarnaan sebanyak 10 liter. Menurutnya, cairan buah bakau hanya memunculkan warna coklat. Kalau pembatik ingin mengkreasikan dengan warna lain, tinggal digabungkan bahan – bahan alami lainnya.

Pria asal Semarang ini menyebutkan materi teori dipusatkan di hotel. Namun para pelajar juga diajak langsung ke lapangan, agar memahami komposisi bahan baku dari tanaman mangrove. Di Semarang, kelompok binaannya sudah berhasil memberdayakan buah mangrove untuk pewarnaan alami. Diharapkan warga Rembang ikut tergerak, apalagi potensi bakau di pesisir Pantura Rembang cukup banyak.

Seorang peserta latihan dari SMP N 4 Rembang, Iin Lestari mengaku senang bisa mencoba membatik dengan buah bakau. Ia sebelumnya mengira tanaman bakau sebatas untuk pencegah erosi pantai saja, ternyata lebih dari itu. Memang membatik agak sulit, tapi bagi Iin hal itu merupakan pengalaman baru yang menyenangkan.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan Dinlutkan Kab. Rembang, Nurida Andante Islami mengatakan pihaknya sengaja mengincar anak – anak SMP, karena masih punya waktu cukup lama berada di Rembang. Setelah pelatihan, ia berharap menambah pengetahuan dan ketrampilan bagi mereka. Sedangkan jangka panjangnya, akan muncul duta – duta baru di bidang lingkungan, yang siap menjaga hutan bakau dari ancaman kerusakan.

Nurida menimpali Dinlutkan berupaya agar pelatihan serupa menjadi agenda rutin. Kebetulan tahun ini memasuki even kali ketiga. Kedepan bisa saja merambah ke siswa – siswa lain di daerah pesisir wilayah timur Kab. Rembang. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *