Flash News
No posts found

Lansia Ini Berjuang Hidup, Sudah Miskin Hadapi Tumor Pula

Masripah, warga miskin di dusun Sambikalung desa Pamotan yang berjuang hidup.

Masripah, warga miskin di dusun Sambikalung desa Pamotan yang berjuang hidup.

Pamotan – Nasib wanita lanjut usia ini sungguh memprihatinkan. Sudah miskin dan hidup sendirian, yang bersangkutan juga menderita tumor.

Yah..Masripah atau biasa disapa Mbah Ripah namanya. Wanita berusia 74 tahun ini, tinggal di kawasan RT 02 RW 07 dusun Sambikalung desa Pamotan, tepatnya sekira 200 meter sebelah selatan Masjid Pamotan.

Rumah Masripah tergolong tidak layak huni. Berlantaikan tanah, sebagian hanya berdinding atap asbes bekas. Dekat pintu masuk, terdapat tulisan keluarga miskin, penerima Raskin. Di dalam rumah tidak memiliki dinding penyekat. Antara tempat tidur, ruang tamu dan dapur, gabung menjadi satu. Saat Reporter R2B menyambangi rumah tersebut, Mbah Ripah tengah sibuk memasak nasi, sambil terus menata deretan kayu bakar di bawah tungku.

Selama ini Masripah tinggal sendirian, karena tidak mempunyai suami maupun anak. Rumahnya kebetulan berhimpitan dengan kediaman keponakannya. Masripah menolak saat diajak tinggal bersama, lantaran enggan merepotkan.

Tubuh Masripah kini semakin kurus kering. Ada dua benjolan besar di bawah mata kiri dan leher. Salah satunya diduga merupakan tumor. Pernah diobatkan ke dokter, tapi belum juga sembuh. Masripah sendiri takut jika tumor dioperasi, mengingat usianya sudah terbilang uzur. Saat kumat, rasanya memang sakit. Kalau sudah sepetrti itu, Masripah berusaha menahan dan memilih tidur, sekedar untuk melupakan sesaat penyakitnya.

Ketua RT 02 RW 07 dusun Sambikalung – Pamotan, Suwito membenarkan Masripah merupakan salah satu keluarga miskin di wilayahnya. Untuk makan sehari – hari, lebih menggantungkan jatah Raskin dari pemerintah sebanyak 15 kilo gram per bulan. Kerap pula tetangga sekitar menyumbangkan beras, demi kelangsungan hidup Mbah Ripah.

Seandainya ada dermawan atau kemungkinan Pemkab Rembang ingin membantu, tentu sangat melegakan. Menurutnya, Mbah Ripah memerlukan uluran tangan, terutama untuk biaya hidup.

Suwito menambahkan ketika rumah Mbah Ripah akan mendapatkan program bedah rumah dari pemerintah, yang bersangkutan sempat keberatan. Alasannya, bantuan berupa material bahan bangunan. Kalau harus merenovasi dengan biaya sendiri, jelas tidak sanggup. Mbah Ripah akhirnya memutuskan mempertahankan rumah peninggalan ibunya, meski sudah rusak di sana sini. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *