Flash News
No posts found

Pangsa Pasar Terbuka, Begini Kaitan Antara Cantrang Dan Penthol Bakso

Bakso dari ikan laut. (gambar atas) H. Suyoto, Kamis siang menunjukkan produk penthol bakso berbahan ikan laut.

Bakso dari ikan laut. (gambar atas) H. Suyoto, Kamis siang menunjukkan produk penthol bakso berbahan ikan laut.

Rembang – Mahalnya harga daging sapi yang menembus Rp 120 ribu per Kg, menjadi bidikan seorang tokoh nelayan di desa Tasikagung – Rembang, untuk mengembangkan bakso berbahan ikan laut.

Yah..peluang itulah yang dimanfaatkan H. Suyoto, warga dusun Pabean desa Tasikagung. Hampir setahun terakhir, ia intensif membuat berbagai makanan olahan dari ikan laut. Mulai otak – otak, nugget hingga penthol bakso.

Bekerja sama dengan sebuah pabrik di desa Banyudono Kec. Kaliori, pria berusia 50 tahun ini gencar memperluas pemasaran penthol bakso ikan laut. Menurutnya, ada sejumlah keunggulan. Selain rasa yang tidak kalah mantap dibandingkan bakso daging sapi, harganya juga lebih murah dan memiliki kandungan protein cukup tinggi. Apalagi pemerintah menggalakkan gemar makan ikan laut. Kalau melihat masyarakat Jepang sebagai negara maju, sehari – hari makanan yang paling dominan dikonsumsi, berasal dari ikan laut. Menurutnya, kebiasaan yang layak dicontoh.

Kebetulan komoditas ikan di pesisir Pantura Kab. Rembang cukup melimpah, maka dirinya mencoba terobosan baru. Bahan ikan yang dipakai adalah ikan – ikan dasar hasil tangkapan kapal cantrang, seperti Suwangi, Kerisi, Kapasan dan ikan Munir. Sementara ini, kapasitas produksi antara 20 – 30 ton per hari. Soal harga, menurutnya sangat terjangkau. Ia mencontohkan penthol bakso isi 0,5 kilo gram, hanya dijual Rp 7.500.

Suyoto menambahkan pekerja pabrik bahkan ikut tertarik membantu menjualkan produk, untuk mencari tambahan penghasilan. Siang kerja di pabrik, tapi malam harinya memasarkan. Meraup untung Rp 5 ribu per bungkus, tentu lumayan.

Tapi pihaknya sudah mengedarkan produk tersebut ke berbagai daerah, mulai Blora, Jepara, Solo hingga ke Jakarta. Termasuk memanfaatkan promosi melalui media sosial. Kendali pemasaran dipusatkan di sebuah Ruko, pinggir Jl. Gajah Mada, sebelah barat Perempatan Penthungan Rembang.

Lalu bagaimana jika kapal cantrang jadi dilarang pemerintah mulai bulan Desember 2016 ? hal itu yang menurutnya masih menjadi bahan pemikiran. Lobi dengan pemerintah pusat terus dijalankan, guna mencari solusi terbaik.

Belum lama ini pihaknya pernah mencoba membuat bakso dari ikan layang maupun ikan – ikan bagian atas perairan, tangkapan kapal mini pursesine. Ternyata bakso berwarna hitam dan baunya masih amis. Terpaksa tidak dipakai lagi. Beda dengan ikan – ikan dasar, warna bakso yang dihasilkan agak putih, rasanya enak dan prospektif untuk pemasaran kedepan. (MJ – 81).

1 Komentar

  1. mas brow

    ada alamat web atau fbnya ndak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *