Flash News
No posts found

Keluhan Air Bau Dan Berwarna, PDAM Ungkap Data Mengejutkan Kualitas Air

Embung Banyukuwung. (gambar atas) Direktur PDAM Rembang, Muhammad Affan menunjukkan hasil analisa air dari laboratorium, Jum’at.

Embung Banyukuwung. (gambar atas) Direktur PDAM Rembang, Muhammad Affan menunjukkan hasil analisa air dari laboratorium, Jum’at.

Sulang – Embung Banyukuwung di perbatasan antara desa Sudo Kec. Sulang dengan desa Sukorejo Kec. Sumber tercemar limbah pupuk pertanian yang sudah melampaui ambang batas. Akibatnya, selama dua Minggu terakhir, kondisi air ke rumah pelanggan di wilayah Rembang bagian barat dan Kec. Kaliori kian menurun kualitasnya. Selain bau, air juga berwarna.

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kab. Rembang, Muhammad Affan, Jum’at siang (19 Agustus 2016) menjelaskan pihaknya secara internal menggelar uji laboratorium. Tapi ada pula tim dari Semarang turut menguji, sebagai data pembanding. Ternyata hasilnya sama. Di Embung Banyukuwung, kondisi air baku semakin keruh, tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.

Kandungan zat Mangan yang mestinya maksimal 0,1 mg/liter, mencapai 0,476 mg/liter. Kemudian zat amonium seharusnya maksimal 0,5 mg/liter, justru menembus 1,5 mg/liter. Hal itu disebabkan karena pencemaran limbah pupuk pertanian, dari lahan persawahan di dalam maupun luar embung. Kebetulan saat kondisi embung tidak terisi penuh, lahan yang timbul, banyak ditanami padi oleh masyarakat sekitar. Hal itu diperparah limbah mengendap dan air embung sangat jarang melimpas. Beberapa kali PDAM menerima keluhan air bau dan berwarna. Maka pihaknya membeberkan data itu, supaya masyarakat pelanggan mengetahui latar belakang permasalahan. Meski demikian PDAM tetap meminta maaf atas ketidaknyamanan pelanggan.

Affan menimpali petugas lapangan sudah berupaya menambah bahan kimia, saat proses pengolahan air. Tapi belum membuahkan hasil, gara – gara tingginya kadar Mangan dan Amonium.

Setelah itu, ada saran dari tim ahli zat kimia untuk menerapkan formula baru. Cairan khusus tersebut dijadwalkan tiba pada hari Minggu (20/08). Namun jumlahnya belum banyak, karena masih tahap uji coba. Ia berharap akan mampu menetralisir. Menurut Affan, penanganan baru bersifat jangka pendek.

Kedepan PDAM berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membantu mengeruk embung Banyukuwung, guna mengurangi endapan tanah yang terlanjur tercemar. Kalau dikeruk, petani diharapkan tidak lagi menggunakan lahan embung. Khusus masyarakat, pria asal desa Pamotan ini memohon ikut berpartisipasi menjaga kebersihan embung.

Meski muncul kendala, PDAM memastikan tetap memasok air ke rumah – rumah pelanggan yang berjumlah 3.500 an. Sarannya, air dipakai memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK). Jangan difungsikan untuk minum, lantaran tidak layak. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *