Flash News
No posts found

Intimidasi Wartawan, IJTI Siap Gerak Dengan Dua Tuntutan

Polisi berjaga – jaga di depan RS dr. R Soetrasno Rembang, untuk mengantisipasi insiden antara wartawan dengan pekerja PLTU, belum lama ini.

Polisi berjaga – jaga di depan RS dr. R Soetrasno Rembang, untuk mengantisipasi insiden antara wartawan dengan pekerja PLTU, belum lama ini.

Rembang – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) se Muria Raya akan menggelar aksi demo solidaritas, Senin (22/08) pukul 09.30 WIB, menentang sikap arogansi oknum pegawai PLTU Sluke yang menghalangi dan merampas HP wartawan saat meliput korban kecelakaan kerja.

Ketua IJTI Muria Raya, Indra Winardi menjelaskan aksi solidaritas semula akan berlangsung di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke. Namun karena berbagai pertimbangan, termasuk saran dari Polres, untuk sementara aksi dialihkan ke depan kantor PLN Rembang. Dipilihnya PLN sebagai simbol, karena Pembangkitan Jawa Bali (PJB) selaku pengelola PLTU adalah anak perusahaan PLN.

Aksi solidaritas akan mengusung dua tuntutan utama, yakni PLTU harus meminta maaf secara terbuka, karena telah melecehkan kerja wartawan dan mendesak Polres Rembang mengusut tuntas kasus intimidasi maupun perampasan HP milik wartawan.

Menurutnya, tindakan oknum pegawai PLTU tak mencerminkan sebuah bagian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia menduga penghalangan dan perampasan HP bukanlah spontanitas, karena menurut informasi di setiap pintu rumah sakit dan tempat perawatan pasien dijaga ketat oleh sekelompok orang. Beberapa pejabat PLTU Sluke juga berada di rumah sakit, mengetahui langsung tindakan intimidasi terhadap wartawan, hanya diam saja. Jika dalam aksi nanti, tidak ada perwakilan PLTU datang menemui, pada lain hari pihaknya siap menggelar demo lebih besar lagi, dengan melibatkan seluruh wartawan di Jawa Tengah, langsung menduduki pintu masuk PLTU Sluke.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kab. Rembang, Djamal A. Garhan menegaskan kejadian perampasan HP milik wartawan Radar Kudus Jawa Pos bukanlah delik aduan. Tapi merupakan tindak pidana, sehingga polisi bisa mengusut tanpa menunggu laporan. Sama halnya seperti penjahat merampas motor di tengah jalan. Kalaupun PLTU sudah meminta maaf kepada yang bersangkutan, tidak akan menggugurkan kasus pidananya.

Belum lagi ada dugaan pelanggaran UU Pers, ketika pekerja PLTU menghadang, mengejar dan mengancam akan menghabisi wartawan. Berdasarkan UU Pers, pelaku terancam hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 500 juta. Menurutnya, yang menjadi korban bukan hanya 1 orang, tapi ada 4 wartawan lain dari berbagai media. Mereka siap bersaksi jika penyidik melakukan pemeriksaan. Kasus ini bukan lagi menyangkut pribadi, tapi sudah menjadi ranah organisasi kewartawanan. Apabila ada upaya penggembosan, Djamal menilai tidak akan berhasil.

Wartawan koran Suara Merdeka ini mendukung aksi solidaritas yang akan digelar oleh IJTI di depan kantor PLN. Pihaknya siap memback up, supaya kasus kekerasan terhadap pekerja pers tidak terulang kembali pada masa mendatang. Terutama bagi PLN agar mengevaluasi kinerja Pembangkitan Jawa Bali yang bertugas di PLTU Sluke. Tindakan oknum pekerja sungguh sudah berlebihan.

Sebagaimana kami beritakan, kecelakaan kerja terjadi di PLTU Sluke. 4 orang pekerja menderita luka bakar serius, akibat kebocoran pipa.

Saat korban menjalani perawatan di rumah sakit dr. R Soetrasno Rembang Kamis malam, oknum pekerja PLTU melarang wartawan meliput. Ketegangan berujung pengejaran dan perampasan HP wartawan. Sampai Minggu sore (21/08) belum ada pernyataan resmi dari PLTU. Beberapa pegawai PLTU ketika dihubungi melalui telefon, mengaku tidak berwenang menyampaikan penjelasan. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *