Flash News
No posts found

KIP Jateng Soroti Rumah Sakit, Dianggap Teledor

Komisioner KIP Jawa Tengah, Zaenal Abidin Petir (tengah) berkomunikasi dengan Direktur RS dr. R Soetrasno Rembang, Agus Setyo Hadi Purwanto, baru – baru ini.

Komisioner KIP Jawa Tengah, Zaenal Abidin Petir (tengah) berkomunikasi dengan Direktur RS dr. R Soetrasno Rembang, Agus Setyo Hadi Purwanto, baru – baru ini.

Rembang – Dibalik insiden kekerasan terhadap wartawan oleh oknum pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke di lingkungan rumah sakit dr. R Soetrasno tanggal 18/08 lalu, ternyata juga mengungkap fakta bahwa kamera pengintai CCTV rumah sakit sudah rusak cukup lama. Akibatnya, peristiwa wartawan dihadang, diancam dan dikerubuti massa ketika mengambil gambar menjadi tidak terdokumentasikan.

Kondisi rusaknya kamera CCTV itupun turut menuai sorotan, karena piranti itu menjadi salah satu sarana pengamanan yang cukup penting.

Komisioner Komisi Informasi Provinsi (KIP) Jawa Tengah, Zaenal Abidin Petir, Selasa siang (30/08) menganggap hal itu sebagai keteledoran manajemen rumah sakit dr. R Soetrasno. Apalagi penanganan dilakukan setelah muncul ramai – ramai kasus kekerasan terhadap wartawan. Ia mempertanyakan bagaimana standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit yang konon kabarnya sudah mengantongi akreditasi paripurna. Apakah memang tidak ada petugas yang mengecek setiap hari atau justru dibiarkan saja setelah pemasangan. Zaenal Abidin Petir mengingatkan kamera CCTV dipasang menggunakan anggaran daerah, mestinya dalam penggunaannya tetap harus dipertanggungjawabkan. Salah satu contohnya pasca insiden kekerasan terhadap wartawan, manakala polisi ingin melihat rekaman kamera CCTV tidak bisa.

Saat Zaenal Abidin Petir yang juga selaku Ketua Lembaga Advokasi Wartawan PWI Jawa Tengah, berada di Mapolres Rembang untuk mendampingi wartawan, tanpa sengaja sempat bertemu dengan Direktur RS dr. R Soetrasno Rembang, Agus Setyo Hadi Purwanto, yang kebetulan baru keluar dari ruangan Kasat Reskrim. Waktu itu Zaenal juga mempermasalahkan kamera CCTV yang trouble, tapi tak cepat diperbaiki. Agus Setyo Hadi Purwanto hanya terdiam, sambil mengangguk – anggukkan kepala. Setelah itu menjawab singkat akan dievaluasi.

Humas Rumah Sakit dr. R Soetrasno, Giri Saputro menyatakan pada layar monitor, sebenarnya gambar ruangan demi ruangan sudah muncul. Akibatnya, petugas jaga tak mengira ternyata gambar sama sekali tidak terekam. Bukan hanya di sekitar ruangan Instalasi Gawat Darurat saja, tetapi juga seluruh kamera CCTV di rumah sakit, yang berjumlah sekira 20 titik.

Kerusakan diketahui tanggal 04 Agustus 2016 dan sudah disampaikan kepada bagian pemeliharaan. Hingga kemudian terjadilah peristiwa ketegangan antara wartawan dengan sejumlah pekerja PLTU di dekat ruang IGD, pada Kamis malam, tanggal 18 Agustus 2016. Keesokan harinya, ketika ingin mengecek rekaman gambar itu, tidak ada filenya. Barulah pihak rumah sakit meminta penanganan langsung dari petugas yang dulu memasang CCTV.

Giri memastikan hari Selasa ini, semua kondisi kamera sudah normal. Menurutnya, keberadaan CCTV penting untuk menunjang pelayanan rumah sakit kepada masyarakat. Sebagai bentuk keseriusan, mulai tahun depan akan dialokasikan anggaran peningkatan kualitas kamera, supaya gambar yang dihasilkan lebih bagus. Mengenai jumlah kamera, pria warga desa Ngotet – Rembang ini menilai sudah cukup.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Dan Kriminal Polres Rembang, AKP Eko Adi Pramono mengungkapkan kamera CCTV bukan termasuk alat bukti. Kalau penyidik tidak perlu melihat CCTV karena arah penyidikan sudah jelas, CCTV juga tak diperlukan lagi.

Justru yang paling pokok adalah memantapkan keterangan para saksi. Setelah wartawan sebagai pelapor dan pekerja PLTU diperiksa, kepolisian perlu meminta tambahan keterangan dari General Manajer PLTU Sluke, Yudhi Bhagaskara dan saksi dari rumah sakit dr. R Soetrasno. Yudhi kebetulan berada di lokasi, saat kejadian berlangsung. Setelah pemeriksaan saksi selesai, barulah polisi melakukan gelar perkara, guna mengetahui ada pelanggaran pidana atau tidak. Kalau ada, dikenakan pasal apa. Gelar perkara penting, supaya membuat sebuah laporan menjadi lebih terang.

AKP Eko Adi Pramono mengklaim sejauh ini tidak ada intervensi kepada polisi. Ia justru balik bertanya, siapa yang berani menekan Polres. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *