Flash News
No posts found

Ditawari Pakai Gas, Nelayan Ungkap Berbagai Alasan Setia Pada Solar

Nelayan tradisional di pesisir Pantura Rembang masih mengandalkan solar sebagai bahan bakar utama, untuk melaut. Tampak seorang nelayan mengecek persediaan solar.

Nelayan tradisional di pesisir Pantura Rembang masih mengandalkan solar sebagai bahan bakar utama, untuk melaut. Tampak seorang nelayan mengecek persediaan solar.

Rembang – Nelayan di Kab. Rembang belum tertarik menggunakan bahan bakar gas untuk melaut, padahal nelayan di sejumlah daerah mulai beralih ke gas, sekaligus menggantikan bahan bakar solar.

Ketua kelompok nelayan desa Tunggulsari Kec. Kaliori, Yauma, Jum’at pagi (02 September 2016) mensinyalir ketidaktertarikan itu, karena nelayan belum mengetahui cara pemakaian gas dan apa saja keunggulannya, dibandingkan menggunakan solar. Seandainya ada pihak – pihak yang mau memaparkan, kemungkinan akan tertarik mencoba. Apalagi bahan bakar gas dianggap lebih ramah lingkungan, karena tidak mencemari laut. Kalau solar, terkadang cecerannya tumpah ke perairan. Selain itu, dari sisi efektifitas, kabarnya gas lebih hemat dibandingkan solar. Seberapa hematnya, nelayan masih bertanya – tanya.

Sampai sekarang, nelayan di kampungnya tetap bertahan mengandalkan bahan bakar solar, karena tak mau susah mengganti perangkat mesin diesel. Apabila membeli baru, harganya cukup mahal dan nelayan kecil rata – rata keberatan. Mereka juga khawatir kalau diganti gas, akan berdampak terhadap penurunan laju perahu.

Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan Kab. Rembang, Suparman mengakui pihaknya belum lama ini mendapatkan penawaran dari Balai Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang, terkait penggunaan bahan bakar gas untuk melaut.

Menurutnya, hanya cocok diterapkan pada perahu – perahu kecil, seperti cokrik. Kalau kapal besar, sepertinya tidak memungkinkan, mengingat butuh kapasitas daya yang besar pula. Dislutkan berencana menyampaikan kepada kelompok – kelompok nelayan dulu. Jika tertarik, baru akan memfasilitasi. Tapi biaya ditanggung nelayan, karena anggaran daerah belum mengalokasikan untuk program pengalihan bahan bakar.

Khusus bahan bakar gas, saat itu ditunjukkan perahu nelayan dipasangi elpiji 3 Kg, kemudian disambungkan dengan mesin diesel. Piranti tersebut dilengkapi converter kit, agar perahu bisa melaju. Pemerintah pusat kebetulan menyarankan supaya nelayan kecil beralih ke gas. Apalagi dalam Peraturan Presiden, sudah dirinci bahwa nelayan kecil bisa memakai gas elpiji 3 Kg.

Suparman menambahkan selain perangkat bahan bakar gas, ada pula tawaran lampu penerang kapal yang menggunakan bahan bakar air laut. Sementara masih taraf uji coba, sehingga perlu dikaji lebih lanjut. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *