Flash News
No posts found

Gagrak Pesisiran, Upaya Bangkit Dari Mati Suri

Pegiat seni dari desa Sendangasri Kec. Lasem menyerahkan wayang gagrak pesisiran kepada Bupati dan Wakil Bupati, Senin pagi.

Pegiat seni dari desa Sendangasri Kec. Lasem menyerahkan wayang gagrak pesisiran kepada Bupati dan Wakil Bupati, Senin pagi.

Lasem – Setelah hampir 30 tahun tidak pernah dipentaskan, pihak desa Sendangasri Kec. Lasem kini gencar membangkitkan lagi seni wayang gagrak pesisiran.

Kepala Desa Sendangasri, Amin, Senin siang (05 September 2016) mengatakan pihaknya mencermati bahwa kampungnya memiliki beragam potensi seni dan budaya. Salah satunya wayang gagrak pesisiran, sebagai warisan turun temurun.

Belum lama ini, pihak desa memfasilitasi pementasan wayang gagrak pesisiran di punden desa setempat. Minimal untuk mengingatkan kembali masyarakat, adanya seni tersebut. Yang menarik, penabuh gamelan atau pengrawit seluruhnya perempuan. Sedangkan ciri khas wayang gagrak pesisiran, tak melulu menampilkan wayang kulit. Pada saat awal pentas, bagian goro – goro dan akhir pementasan, menggunakan wayang golek. Hal ini yang membedakan dengan wayang kulit pada umumnya. Amin mengungkapkan dana desa untuk mempromosikan wayang gagrak pesisiran, sementara baru Rp 12 juta. Tapi kedepan desa ingin membuat semacam sanggar budaya, agar upaya promosi menjadi lebih efektif.

Dalang dari desa Sendangasri Kec. Lasem, Ki Kartono menjelaskan pentas kali pertama wayang gagrak pesisiran setelah lama mati suri, menyedot antusiasme sangat tinggi dari masyarakat. Dengan alur cerita menggunakan kisah Mahabarata dan Ramayana, membuat penonton lebih mudah mencerna. Ia berharap Pemkab Rembang turut memperhatikan nasib seni wayang gagrak pesisiran, agar tidak musnah ditelan perkembangan zaman.

Senin pagi (05/09), Kades Sendangasri, dalang ki Kartono, pembuat wayang gagrak pesisiran, didampingi pegiat sejarah Lasem menemui Bupati dan Wakil Bupati Rembang. Mereka juga menyerahkan wayang dan makalah gagrak pesisiran. Bupati mendapatkan wayang punakawan, sebagai simbol bisa ngemong masyarakat. Sedangkan wakil bupati diberi wayang Pandawa, menjadi simbol kejujuran. Ki Kartono berharap dengan semangat ngemong dan jujur, akan mendatangkan berkah bagi pembangunan Kab. Rembang.

Wakil Bupati Rembang, Bayu Andriyanto mengaku akan membaca makalah tentang sejarah wayang gagrak pesisiran terlebih dahulu. Pada prinsipnya Pemkab Rembang mendukung seni budaya sebagai salah satu sektor yang akan mampu menggerakkan ekonomi kreatif.(MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *