Flash News
No posts found

Jalur Explorasi Migas Tak Layak, Warga Berkomentar Soal Kendaraan Berat

Salah satu ruas jalan di sebelah utara desa Sumber. Jalur ini nantinya akan digunakan untuk perlintasan alat berat pengeboran Migas.

Salah satu ruas jalan di sebelah utara desa Sumber. Jalur ini nantinya akan digunakan untuk perlintasan alat berat pengeboran Migas.

Sumber – Warga sejumlah desa di Kec. Sumber meminta Pertamina untuk menyosialisasikan rencana pemanfaatan jalan yang akan dilewati truk – truk besar pembawa alat berat sarana pengeboran Migas di desa Krikilan Kec. Sumber. Jalur tersebut yakni antara desa Dresi Kulon Kec. Kaliori sampai dengan desa Krikilan Kec. Sumber.

Seorang warga desa Jatihadi Kec. Sumber, Rahmat mengatakan saat ini kondisi sebagian ruas jalan rusak parah. Kalau dilewati kendaraan berat, bisa dipastikan semakin rusak. Ia mempertanyakan bagaimana bentuk kompensasi dari hilir mudik kendaraan berat kelak. Menurutnya masyarakat juga butuh kejelasan, karena sampai sekarang belum pernah ada informasi.

Warga lain di desa Sumber, Gunanto meyakini Pertamina akan melakukan langkah – langkah, terkait penggunaan jalur. Apalagi jalan dan jembatan Dresi – Krikilan sebenarnya tidak sesuai dengan kapasitas, apabila dilalui truk besar. Ia masih ingat ketika era tahun 1990 an, pada waktu eksplorasi pertama, pekerja membuat semacam modifikasi jembatan di atas jembatan aslinya, sehingga kendaraan berat tetap bisa melintas dengan aman. Kemungkinan cara semacam itu akan diberlakukan kembali. Gunanto menganggap tak masalah, karena perlintasan alat berat tidak berlangsung setiap hari. Lagipula kalau di sana benar keluar minyak atau gas dalam jumlah besar, masyarakat akan ikut merasakan dampak positifnya.

Sementara itu, Kaur Binops Satuan Lalu Lintas Polres Rembang, Iptu Rohmat menanggapi pihaknya belum pernah diajak berkoordinasi oleh Pertamina, mengenai rencana alat berat pengeboran masuk ke desa Krikilan. Ia menyarankan semua dirembug dulu bersama pihak – pihak terkait.

Mengingat jalan Dresi Kulon – Krikilan termasuk kelas III atau bobot kendaraan yang boleh lewat maksimal 8 ton. Kalau truk trailer atau sejenisnya membawa muatan, pasti bobotnya mencapai puluhan ton. Yang penting masalah dikaji, kemudian dicarikan solusinya.

Sebelumnya, General Manager Perusahaan Hulu Energi Randugunting 2, Abdul Mutalib Masdar sebagaimana dikutip dari tribunnews memastikan semua perizinan pasti dibereskan. Menurutnya, mobilisasi peralatan ke lokasi akan dilakukan pada malam hari, agar tidak terlalu mengganggu lalu lintas. Pengangkutan barang juga mesti mendapatkan pengawalan dari aparat keamanan. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *