Flash News
No posts found

Desakan Police Line Kasus Kedungringin Dicopot, Begini Alasan LPAR

Garis polisi terpasang di belakang ruang perpustakaan SD Kedungringin Kec. Sedan. Ada permintaan garis polisi lekas dicopot, kalau tidak lagi dibutuhkan.

Garis polisi terpasang di belakang ruang perpustakaan SD Kedungringin Kec. Sedan. Ada permintaan garis polisi lekas dicopot, kalau tidak lagi dibutuhkan.

Sedan – Lembaga Pemerhati Anak Rembang (LPAR) mengagendakan pemulihan trauma terhadap dua anak Mahfudz (35 tahun), korban penusukan di desa Kedungringin Kec. Sedan. Hal itu setelah kedua anak tersebut, Putri Nurdiana dan Zahra sempat mengetahui ayahnya tergeletak, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Ketua Lembaga Pemerhati Anak Rembang, Sofyan mengatakan pihaknya bersama sejumlah aktivis anak hari Senin (19/09) mesti berembug dulu, membahas cara apa yang tepat untuk membuat dua anak korban tidak dihantui trauma berkepanjangan. Pihaknya merasa prihatin, apabila peristiwa tersebut selalu menjadi bayang – bayang menakutkan. Dikhawatirkan berdampak terhadap kondisi psikologis anak.

Pria asal desa Kumbo Kec. Sedan ini juga berharap aparat kepolisian segera melepaskan police line (garis polisi) yang berada di antara ruang perpustakaan dengan kelas SD N Kedungringin, lokasi di mana penusukan terjadi. Kalau memang sudah tidak diperlukan lagi untuk proses penyelidikan, sebaiknya dicopot saja, agar siswa sekolah yang masih dibawah umur tidak terus – terusan mengingat tragedi berdarah itu. LPAR akan berkoordinasi dengan Polsek Sedan, menyangkut keberadaan garis polisi.

Kepala Satuan Reserse Dan Kriminal Polres Rembang, AKP Eko Adi Pramono menjelaskan tidak ada batasan waktu pemasangan garis polisi. Ia membenarkan masih dimungkinkan ada olah TKP lanjutan atau penggalangan tambahan bukti. Meski demikian pihaknya memastikan apabila dirasa sudah cukup, police line akan dicopot. Semua tinggal menyesuaikan perkembangan proses penyidikan tersangka.

Sebagaimana diberitakan, Kamis pagi pekan lalu, Syafi’i (23 tahun) menusuk leher Mahfudz dengan tatah hingga tewas. Korban saat itu kebetulan tengah mengasuh anak keduanya, Zahra di jalan kampung sebelah selatan SD N Kedungringin. Setelah suasana ramai, anak pertama korban, Putri Nur Diana yang duduk di kelas VI juga keluar menuju TKP dan memergoki ayahnya tak berdaya, dengan luka mengenaskan. Tersangka tega melakukan tindakan sadis itu, karena menyimpan dendam lama. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *