Flash News
No posts found

Pasutri Pendobrak Pakem Susu Etawa

Pegawai PT Semen Indonesia turut melihat proses pencetakan sabun, Rabu siang. (gambar atas) Nurul Azizah menunjukkan sabun berbahan susu kambing etawa.

Pegawai PT Semen Indonesia turut melihat proses pencetakan sabun, Rabu siang. (gambar atas) Nurul Azizah menunjukkan sabun berbahan susu kambing etawa.

Sulang – Pasangan suami isteri di dusun Nyikaran desa Kemadu Kec. Sulang mempelopori susu kambing etawa tak sekedar untuk susu, tetapi disulap menjadi berbagai produk menarik. Mulai dari sabun batangan, masker wajah, yoghurt, hingga cemilan makanan ringan.

Yah..pasangan tersebut adalah Ragil Bambang Sumantri (34 tahun) dan Nurul Azizah, tinggal di dusun Nyikaran desa Kemadu Kec. Sulang. Keduanya memiliki latar belakang keilmuan berbeda, bahkan jauh dari urusan peternakan kambing. Ragil lulusan Institut Tekhnologi Nasional (ITN) Malang, sedangkan Nurul jebolan Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang. Meski demikian Ragil dan Nurul mampu mendobrak pakem susu kambing etawa, menjadi lebih variatif.

Nurul mengakui ide membuat sabun berawal dari pelajaran saat kuliah dulu. Setelah melihat susu yang mendekati masa kadaluwarsanya berakhir, ia terpikir untuk diolah lagi menjadi sabun batangan mulai tahun 2011. Tiap bulan laku sampai 1.000 batang. Begitu sukses, giliran membuat produk yoghurt dan terakhir masker wajah.

Hal senada diungkapkan Ragil Bambang Sumantri. Ragil kerap menuangkan ide – ide segarnya bersama kelompok ternak Taruna Tani Margo Mulyo, yang terbentuk sejak tahun 2009 silam. Kini anggota kelompok sudah mencapai 25 orang, mengoptimalkan potensi kambing etawa, mulai hulu ke hilir. Belakangan susu yang dijual Rp 10 ribu, kemudian sabun dan masker antara Rp 10 – 15 ribu, sudah merambah ke berbagai daerah. Omset totalnya sekira Rp 20 juta setiap bulan.

Mengenai kendala, Ragil membenarkan ada sejumlah masalah yang mesti dibenahi kedepan. Misalnya, peningkatan kebersihan kandang, penambahan fasilitas produksi dan melengkapi izin produk. Ia mencontohkan untuk susu, perlu izin Badan Pengawasan Obat Dan Makanan (BPOM). Hasil uji laboratorium baru saja turun dan ternyata sangat layak konsumsi. Ditanya soal modal, pihaknya merasa terbantu oleh pinjaman lunak dari PT Semen Indonesia. Kebetulan per orang menerima suntikan Rp 25 juta.

Menurut Ragil, dalam lomba kelompok tani ternak se Jawa Tengah tahun ini, kelompoknya berhasil menggondol juara I. Tahun 2017 mendatang berhak mewakili Jawa Tengah di tingkat nasional. Baginya lomba itu merupakan ajang pembuktian, bahwa kambing etawa memiliki prospek bagus untuk ikut mendongkrak kesejahteraan masyarakat. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *