Flash News
No posts found

Berawal Dari Keprihatinan, Wanita Ini Terus Menggugah Masyarakat

Pegawai PT Semen Indonesia mengecek bantuan jamban di desa Kadiwono Kec. Bulu. (gambar atas) Annarini Wiharjati bersama dengan penerima bantuan jamban.

Pegawai PT Semen Indonesia mengecek bantuan jamban di desa Kadiwono Kec. Bulu. (gambar atas) Annarini Wiharjati bersama dengan penerima bantuan jamban.

Bulu – Wanita di desa Kadiwono Kec. Bulu ini terkenal karena kegigihannya mengedukasi masyarakat setempat, dari yang semula masih banyak buang air besar (BAB) sembarangan, kini mulai tergugah menggunakan jamban.

Yah..Annarini Wiharjati namanya. Perempuan berusia 50 tahun warga desa Kadiwono ini mengaku prihatin ketika melihat tetangganya sering buang air besar di pinggir sungai dan lahan tegalan. Selain bau menyengat, hal itu juga rawan mengakibatkan gangguan kesehatan. Dalam beberapa kali pertemuan PKK, dirinya mencoba memberitahukan tentang bahaya BAB sembarangan. Setelah itu ditindaklanjuti dengan masuk ke rumah – rumah warga. Ternyata respon masyarakat cukup bagus, terkadang ditemukan pula warga menumpang buang air besar ke rumah saudara. Artinya mereka sudah punya niat ingin berubah menjadi lebih baik.

Saat mencari donatur, kebetulan ada program bina lingkungan dari PT Semen Indonesia. Untuk tahap awal dibantu 8 buah jamban, prioritas bagi keluarga tidak mampu.

Annarini menambahkan desa Kadiwono sampai bulan September ini belum terbebas dari predikat BAB sembarangan. Ia pribadi merasa kurang nyaman, karena juga ditarik menjadi tim Open Defecation Free (ODF) tingkat kecamatan Bulu. Tapi ternyata kampungnya sendiri belum mampu terbebas. Dari 330 an kepala keluarga, 50 KK belum mempunyai jamban dan 10 KK lainnya jamban yang dimiliki tidak layak.

Tahun 2016 ini desa Kadiwono diajukan bebas BAB sembarangan ke Kab. Rembang, bersama dengan desa Mantingan, Bulu, Jukung, Pasedan, Lambangan Kulon dan Sendangmulyo Kec. Bulu. Progresnya agak mengkhawatirkan, lantaran suplier yang menggarap kloset, deker dan penutup septic tank belum selesai. Ibaratnya sekarang dikejar target waktu. Ia mengakui memang sempat muncul kecemburuan, karena jamban hasil bantuan PT Semen Indonesia jauh lebih baik dan siap pakai. Sedangkan bantuan dari desa, penerima harus menanggung biaya swadaya tenaga kerjanya. Apapun alasannya, warga tetap didorong mengoptimalkan bantuan, sehingga desa Kadiwono segera lepas dari BAB sembarangan.

Sementara itu seorang penerima bantuan jamban PT Semen Indonesia di desa Kadiwono, Rasminah mengakui semula sering BAB ke sungai atau tengah sawah. Keterbatasan biaya menjadi penyebabnya. Uang yang ada, dipakai untuk menyambung hidup sehari – hari. Setelah punya jamban sendiri, Rasminah kini tidak susah – susah lagi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Rembang, Ali Syofi’i membenarkan program pengentasan BAB sembarangan ditargetkan selesai tahun 2017 mendatang. Dari 294 desa dan kelurahan se Kab. Rembang, saat ini sudah ada 91 desa yang telah mendeklarasikan bebas BAB sembarangan. Proses masih terus berjalan, tahun ini ada 85 desa akan menyusul diverifikasi kesiapannya. Selain melalui dana desa, Pemkab Rembang juga menunggu sokongan dari dana CSR perusahaan. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *