Flash News
No posts found

Wartawan Diperiksa Lagi, Tak Tergiur Ikut Cabut Laporan

Sejumlah wartawan memberikan suport terhadap rekannya yang diperiksa sebagai saksi, dengan menunggu di Mushola Polres. (gambar atas) Wartawan Radio Pop FM Rembang, Dicky Prasetyo menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Mapolres Rembang, Sabtu pagi.

Sejumlah wartawan memberikan suport terhadap rekannya yang diperiksa sebagai saksi, dengan menunggu di Mushola Polres. (gambar atas) Wartawan Radio Pop FM Rembang, Dicky Prasetyo menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Mapolres Rembang, Sabtu pagi.

Rembang – Meski dua orang wartawan di Rembang mencabut berita acara pemeriksaan (BAP), namun tidak menyurutkan semangat sejumlah wartawan lainnya untuk meneruskan kasus kekerasan terhadap wartawan yang diduga melibatkan oknum pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke, agar tetap diproses ke jalur hukum.

Sebelumnya, dua wartawan yang mencabut BAP adalah Wisnu Aji, wartawan Radar Kudus Jawa Pos yang HP nya sempat dirampas dan Heru Budi Santoso wartawan radio Citra Bahari (CB) FM. Dari hasil klarifikasi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kab. Rembang, Djamal A. Garhan kepada mereka berdua, diketahui penyebab kenapa memilih mencabut laporan. Wisnu Aji beralasan karena ada arahan dari perusahaan tempatnya bekerja, sedangkan Heru Budi berdasarkan informasi yang pernah ia lontarkan merasa kecewa ada pengurus PWI punya kerja menikahkan anaknya, justru masih saja mengundang pihak PLTU Sluke. Baginya hal itu dianggap kurang pantas, seiring permasalahan yang membelit wartawan dan PLTU.

Proses di kepolisian sejauh ini tetap berjalan, karena masih ada 4 orang wartawan yang bertekad membawa kejadian tersebut ke ranah hukum. Mereka masing – masing Djamal A. Garhan wartawan Suara Merdeka, Sarman Wibowo wartawan Cakra Semarang TV, Dicky Prasetyo dari Wartawan Radio POP FM dan Suparjan dari Bhayangkara Perdana. Bahkan pada hari Sabtu (15 Oktober 2016) wartawan Radio POP FM, Dicky Prasetyo kembali menjalani pemeriksaan di ruang Unit IV Satreskrim. Selama 1,5 jam Dicky memberikan keterangan, menjawab sekira 10 pertanyaan. Setelah diperiksa, Dicky menyatakan penyidik sifatnya mendalami, seputar peristiwa perampasan HP dan intimidasi sejumlah orang terhadap wartawan, sampai muncul suara teriakan bunuh dan keroyok. Waktu itu, tanggal 18 Agustus 2016 wartawan meliput 4 korban kecelakaan kerja PLTU saat menjalani perawatan di rumah sakit dr. R Soetrasno, yang belakangan meninggal dunia 2 orang.

Dicky mengungkapkan kalau ada rekannya sesama wartawan mencabut BAP, hak mereka. Ia pribadi tidak akan ikut – ikutan mencabut kesaksian, mengingat sudah menjadi garis keputusan PWI. Lagipula dengan jalur hukum, menjadi cara elegan agar semua pihak memahami wartawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dan dilindungi Undang – Undang, sehingga di kemudian hari tak lagi muncul kasus serupa.

Ketua PWI Kab. Rembang, Djamal A. Garhan menyatakan pencabutan BAP oleh Wisnu Aji dan Heru Budi Santoso tidak akan menghentikan kasus. Ia menilai tindakan oknum pekerja PLTU bukanlah delik aduan. Artinya, tanpa laporan sekalipun atau semisal semua korban mencabut laporan, polisi tetap harus memproses.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Rembang, Iptu Ibnu Suka menjelaskan pihaknya masih butuh tambahan keterangan saksi, untuk pendalaman.
Nantinya penyidik akan melakukan gelar perkara, guna memperjelas kasusnya dan apakah layak dinaikkan ke tahap penyidikan, sekaligus penetapan tersangka. Ibnu yang kebetulan baru sepekan lebih menjabat sebagai Kasat Reskrim, belum bisa menyampaikan secara rinci penanganan kasus tersebut. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *