Flash News
No posts found

Sekolah Ini Punya Tim Sensor, Fokusnya Menutup Gambar Wajah Wanita

Siswa MA Al Anwar Sarang membaca koran di sekolah mereka. Tampak wajah – wajah perempuan di dalam koran ditutupi kertas polos.

Siswa MA Al Anwar Sarang membaca koran di sekolah mereka. Tampak wajah – wajah perempuan di dalam koran ditutupi kertas polos.

Sarang – Sekolah yang satu ini memiliki sejumlah keunikan, dibandingkan sekolah lain pada umumnya. Mulai menyiapkan tim sensor, hingga pengaturan ketat jalur siswa laki – laki dengan siswa perempuan. Yah…bagaimana selengkapnya, Reporter R2B menyambangi Madrasah Aliyah Al Anwar yang berlokasi di desa Kalipang Kec. Sarang.

Madrasah Aliyah Al Anwar Sarang mengembangkan sistem pendidikan terintegrasi dengan Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, yang diasuh Kiai Maemoen Zubair. Di sekolah ini, terdapat 1.299 siswa menimba ilmu, sekira 70 % diantaranya berasal dari luar Kab. Rembang.

Karena mengacu sistem pembelajaran di pondok pesantren, siswa laki – laki dan siswa perempuan dipisahkan secara ketat, karena mereka bukan muhrim. Jangan berharap bisa menemukan kelas berisi siswa laki – laki bercampur dengan siswa perempuan. Semua dipisahkan ke ruangan yang berbeda. Jangankan kelas, jalur perlintasan jalan kaki selama di sekolah juga sudah ditetapkan oleh pihak sekolah. Untuk anak laki – laki diberi akses lantai dasar. Sedangkan siswa perempuan, hanya boleh lalu lalang di lantai II, III dan Gedung Biru.

Staf Pengembangan Mutu MA Al Anwar Sarang, Abdul Ghofur mengatakan sejauh ini aturan tersebut dipatuhi oleh siswa. Bahkan pada waktu pulangpun, secara otomatis masing – masing siswa langsung menyesuaikan, supaya tidak saling berpapasan.

Reporter R2B sempat mendapati sekelompok siswa asyik membaca koran yang tertempel di depan salah satu kelas. Yang menarik, ternyata foto – foto wajah dan tubuh wanita di dalam koran ditutup dengan kertas polos.

Abdul Ghofur menambahkan ketika koran tiba pagi hari, pengurus OSIS menjadi tim sensor, bertugas menutup gambar perempuan, jadwal pertandingan sepak bola maupun jadwal konser musik. Setelah selesai, sore harinya koran baru ditempel. Semua upaya tersebut, agar siswa lebih fokus mencari ilmu. Tanpa harus terganggu hal – hal lain yang bisa mengarah pada tindak negatif. Jika siswa tak bisa mengikuti aturan, justru lama kelamaan akan semakin ketinggalan. Mengingat rutinitas di sekolah dan pondok tergolong padat.

Ghofur yang lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogjakarta ini berpendapat sistem yang berjalan sekarang, memberikan bekal bagi siswa untuk memahami arti seorang perempuan. Hal itu sebagai bentuk menghormati wanita. Awalnya siswa mungkin kaget, begitu kali pertama masuk MA Al Anwar. Namun seiring berjalannya waktu, peserta didik umumnya mampu menyesuaikan. Belakangan sekolah – sekolah lain yang berbasis Pondok Pesantren, turut menerapkan cara serupa. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *