Flash News
No posts found

Pejabat Rumah Sakit Dilimpahkan Ke Kejari, Jaksa Ungkap Statusnya

Bangunan paviliun rumah sakit dr. R Soetrasno inilah yang sudah menyeret 4 nama dalam pusaran kasus hukum.

Bangunan paviliun rumah sakit dr. R Soetrasno inilah yang sudah menyeret 4 nama dalam pusaran kasus hukum.

Rembang – Polres Rembang, Selasa siang (18 Oktober 2016) menyerahkan Giri Saputro (51 tahun), tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan ruang paviliun rumah sakit dr. R Soetrasno, kepada Kejaksaan Negeri. Giri pada perkara ini bertindak sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek, sedangkan dalam keseharian merupakan Kepala Bidang Pengembangan Dan Informasi atau Humas rumah sakit.

Penyidik Unit III Reskrim Polres Rembang datang ke kantor Kejaksaan Negeri sekira pukul 13.00 WIB. Pada pelimpahan tahap ke II ini, penyidik tidak hanya menyerahkan tersangka Giri Saputro, namun juga melengkapi tambahan barang bukti dokumen.

Kepala Satuan Reserse Dan Kriminal Polres Rembang, Iptu Ibnu Suka menjelaskan setelah dilimpahkan, semua kewenangan berada di tangan Jaksa Penuntut Umum. Memang selama menjalani proses di kepolisian, Giri Saputro tidak ditahan, karena bersikap kooperatif. Penyidik mempertimbangkan secara normatif, bahwa yang bersangkutan tidak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti. Ibnu menganggap setelah Giri, penyidikan kasus dugaan korupsi pembangunan ruang paviliun rumah sakit selesai.

Kejaksaan Negeri Rembang akhirnya menetapkan Giri Saputro menjadi tahanan kota. Giri tidak langsung dimasukkan ke dalam Rutan Rembang, tapi dilarang bepergian keluar kota Rembang.

Kepala Kejaksaan Negeri Rembang melalui Kepala Seksi Pidana Khusus, Rizal Ramdhani mengatakan sudah ada jaminan dari Direktur Rumah Sakit dr. R Soetrasno, bahwa Giri siap menjalani seluruh proses hukum.

Sementara itu, Bambang Wahyu Widodo, selaku pelapor berpendapat Giri Saputro bukanlah pemain utama. Tapi ia menduga ada pihak – pihak lain turut terlibat, sayangnya belum tersentuh hukum. Semisal pengguna anggaran, mestinya juga diproses. Bambang menyesalkan lambannya penanganan kasus, bahkan sampai berganti 4 Kapolres. Jangan heran jika masyarakat bertanya – tanya, ada apa dibalik semua itu. Soal status tahanan kota, menurutnya tidak berpengaruh. Yang penting, berkas segera diteruskan ke Pengadilan Tipikor Semarang, supaya lekas masuk persidangan.

Selain Giri, terdapat 3 orang yang lebih dulu disidangkan dalam kasus tersebut. Masing – masing Muh. Zuhri, warga Sidoharjo – Jatim selaku Direktur Utama Duta Rama Surabaya, kemudian Budi Harsono warga desa Kabongan Lor dan Mujiono warga desa Tireman, Rembang.

Kasus ini bermula adanya pembangunan bangsal paviliun di kawasan rumah sakit sisi barat pada tahun 2012 silam, dengan alokasi anggaran Rp 7,9 miliar. Berdasarkan audit BPKP, ditemukan angka kerugian negara sebesar Rp 997 juta. (MJ – 81).

1 Komentar

  1. sastro

    Bukannya istrinya bambang yg jadi bendahara proyek?
    Gimana ceritanya bendahara dan pengguna anggaran lolos, sementara ketua proyek terjerat? Aneh sekali kasus ini. Dan media memberitakan mentah.
    Tidak menelusuri lebih dlm supaya seimbang.
    Logikanya bendahara dan pengguna anggaran (direktur RS) pasti tau jika ada korupsi. Karna mreka yg menyetujui jika ada pencairan dana.
    Kok yg bertanggungjawab cm ketua?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *