Flash News
No posts found

Setengah Tahun Berlalu, Siapkan Saksi Ahli Dari Undip

Pegiat lingkungan membantangkan poster sebagai bentuk protes terhadap pembabatan bakau.

Pegiat lingkungan membantangkan poster sebagai bentuk protes terhadap pembabatan bakau.

Kaliori – Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Kab. Rembang, menyiapkan saksi ahli untuk menunjang penyidikan kasus pembabatan hutan bakau di pinggir pantai desa Dresi Kulon, tepatnya sebelah timur Kaliori.

Juru bicara KKMD Kab. Rembang, Maimun Abdul Hanan, Jum’at siang (21 Oktober 2016) mengungkapkan pihaknya baru saja menerima surat pemberitahuan tertulis dari Polres Rembang yang berisi perlunya saksi ahli. KKMD siap memfasilitasi, dengan meminta bantuan pengurus Kelompok Kerja Mangrove Daerah Provinsi Jawa Tengah. Mereka rencananya akan menerjunkan seorang saksi ahli, Rudi Pribadi, pengurus KKMD provinsi sekaligus pengajar Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Maimun memaklumi proses penyidikan kasus ini berlangsung cukup lama, karena polisi sangat berhati – hati, sebelum menetapkan tersangka. Sudah setengah tahun, semenjak kasus itu dilaporkan. Ia berharap polisi tetap pada relnya dan jangan main – main, karena banyak kalangan pegiat lingkungan menyoroti kasus tersebut.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat dimintai tanggapannya mengenai penebangan hutan bakau mengaku kecewa, lantaran lokasi penebangan berada di tanah negara. Bagaimanapun tanaman bakau sangat bermanfaat bagi kelestarian lingkungan pesisir. Sudah semestinya masyarakat ikut menjaga. Bupati mendukung upaya hukum dan menyerahkan seluruh proses di tingkat kepolisian.

Kepala Satuan Reserse Dan Kriminal Polres Rembang, Iptu Ibnu Suka menanggapi pihaknya masih melakukan pemeriksaan saksi. Sejauh ini belum ada penetapan tersangka.

Sebagaimana kami beritakan, bulan April lalu, Kelompok Kerja Mangrove Daerah menemukan penebangan hutan bakau cukup mengerikan di area lahan turut tanah desa Dresi Kulon Kec. Kaliori.
Perkiraan luasnya hampir 10 hektar. Setelah bakau yang mencapai ketinggian 2 – 3 meter dihabisi, tanah diolah menjadi lahan tambak. Selama proses hukum berjalan, ironisnya penebang bakau masih bebas menggarap tambaknya untuk budidaya ikan bandeng. Seakan – akan mereka tidak ada rasa takut sama sekali. Bahkan garis polisi (police line) yang terpasang, diduga turut dirusak. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *