Flash News
No posts found

Penertiban Berujung Protes, Petani Geram Dan Ancam Bakar Motor

Perhutani melarang penanaman ketela di lahan persil milik Perhutani.

Perhutani melarang penanaman ketela di lahan persil milik Perhutani.

Lasem – Sejumlah petani di dusun Kolilo desa Sendangcoyo Kec. Lasem memprotes penertiban tanaman ketela milik mereka, diduga oleh petugas Perhutani. Tanaman ketela siap panen dipatahkan dan dicabuti, sehingga membuat petani geram melihat tanamannya kocar – kacir.

Seorang warga dusun Kolilo desa Sendangcoyo yang enggan disebutkan namanya menceritakan waktu itu petani seperti biasa berangkat ke lahan persil Perhutani. Betapa kagetnya, ternyata tanaman ketela sudah porak poranda tak karuan. Lokasi petaknya menyebar di 4 titik, selama ini digarap oleh 4 orang petani.

Ia menyadari sudah sejak lama Perhutani melarang petani penggarap lahan persil menanam ketela. Namun kalau masih saja memergoki tanaman ketela, sebaiknya bisa dikoordinasikan secara baik – baik. Jangan langsung dihabisi seperti itu, karena petani pasti akan sangat kecewa. Mereka sudah keluar biaya dan tenaga. Begitu ingin memetik hasilnya, justru gagal, akibat tindakan petugas Perhutani.

Sempat muncul suara, kalau petugas Perhutani datang lagi, warga mengancam membakar motor mereka. Tapi ia tidak tahu persis, apakah hanya sebatas luapan emosi sesaat atau benar – benar akan dilakukan.

Seorang pemerhati masalah kehutanan, Zuber Utsman berharap Perhutani jangan sewenang – wenang. Tapi lebih mengedepankan pendekatan persuasif. Jika sebaliknya Perhutani terlalu ngotot mempertahankan aturan dan melukai hati masyarakat pinggiran hutan, justru mengancam pengelolaan hutan lestari. Sistem pengelolaan hutan lestari mengandalkan keterlibatan masyarakat. Begitu masyarakat yang bermukim dekat hutan kecewa, program tersebut tidak akan bisa optimal. Mantan ketua paguyuban Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) se KPH Kebonharjo ini mendorong penyelesaian masalah tanpa menimbulkan rasa sakit hati.

Reporter R2B berupaya menghubungi pihak Perhutani KPH Kebonharjo. Administratur maupun Wakil Administratur KPH Kebonharjo ketika kami telefon, terdengar nada sambung, namun tidak diangkat. Dikonfirmasi melalui pesan pendek sms, sampai Minggu sore (23/10) juga belum dibalas.

Hanya saja menurut sebuah sumber di Perhutani menyebutkan tanaman ketela dilarang di lahan Perhutani, apalagi Gunung Lasem termasuk kawasan lindung. Tanaman ketela banyak menyerap kesuburan tanah. Seusai panen, dikhawatirkan tanah mudah mengalami erosi. Begitu curah hujan tinggi, rawan mengakibatkan tanah longsor. Pada dasarnya pelarangan tanaman ketela, demi kebaikan warga sekitar. Lagipula, petani dibebaskan menanam apa saja, kecuali ketela. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *