Flash News
No posts found

“Gus Mus Menyebutnya Santri Udele Kuwalik…”

Suasana puncak peringatan Hari Santri di Alun – Alun Rembang, Minggu malam.

Suasana puncak peringatan Hari Santri di Alun – Alun Rembang, Minggu malam.

Rembang – KH. Mustofa Bisri menganggap kalau ada santri melakukan serangan teroris, tidak memahami jati diri seorang santri. Ia mengumpamakan santri yang pusarnya terbalik.

Gus Mus, demikian panggilan akrab Kiai Mustofa Bisri menyampaikan hal itu, saat memberikan tausiyah pada puncak peringatan Hari Santri di kawasan Alun – Alun Rembang, Minggu malam (23 Oktober 2016). Gus Mus mengatakan santri mestinya menjadikan Indonesia sebagai rumah. Tidak mungkin rumahnya sendiri dirusak. Ketika gembong teroris dari Malaysia, Noordin M. Top maupun Dr. Azhari mengguncang Indonesia dengan teror bom, bisa jadi mereka merasa Indonesia bukan rumahnya.

Lebih lanjut Gus Mus mengisahkan tokoh pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari yang tidak pernah ditulis dalam catatan sejarah. Padahal mempunyai jasa besar, pada masa perjuangan mengusir penjajah. Menurutnya, kiai desa memang sering menyembunyikan jasa. Umat bisa belajar dari semangat Kiai Hasyim Asy’ari yang menjadikan pondok pesantren, untuk menguatkan fungsi Alqur’an dan Hadits. Kalau ingin menangkal radikalisme, Gus Mus mengajak segera kembali pada Alqur’an dan Hadits.

Sementara itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz menceritakan pengalamannya dulu, ketika menjadi santri di pondok pesantren MUS Sarang. Sejak awal dirinya tidak pernah berangan – angan menjadi bupati. Hafidz kemudian mendorong santri selalu bersemangat. Baginya banyak jalan menuju kesuksesan.

Puncak peringatan Hari Santri sempat diwarnai hujan deras sejak sore, kemudian pada waktu pentas berlangsung sempat gerimis, namun tidak menyurutkan semangat para penonton. Suasana kian meriah, ketika pertunjukan seribu rebana. Setelah itu dilanjutkan pentas musik kontemporer ala Kiai Kanjeng yang dipimpin budayawan Emha Ainun Nadjib dan pentas wayang kulit dengan dalang Ki Sigit Aryanto. Ribuan orangpun memadati Alun – Alun, mereka larut sampai pagelaran selesai sekira pukul 01.30 Senin dini hari. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *