Flash News
No posts found

Cuaca Tak Menentu, Perlengkapan Kapal Yang Satu Ini Dicek Rutin

Patroli aparat TNI AL Rembang, memantau keluar masuk kapal di sekitar pelabuhan Tasikagung.

Patroli aparat TNI AL Rembang, memantau keluar masuk kapal di sekitar pelabuhan Tasikagung.

Rembang – Syahbandar maupun petugas Pos Angkatan Laut tidak akan memberikan izin berlayar, apabila mengetahui sarana radio komunikasi di kapal nelayan rusak.

Komandan Pos Angkatan Laut Rembang, Lettu Hartono, Selasa siang (25 Oktober 2016) menjelaskan radio komunikasi merupakan salah satu bagian penting. Ketika berada di tengah lautan, HP tentu saja tidak ada sinyal. Hanya HT yang bisa diandalkan, untuk sarana komunikasi. Maka sebelum melaut, harus dipastikan benar – benar aktif. Jika masih muncul kendala, pihaknya mewajibkan memperbaiki terlebih dahulu. Setelah itu, nelayan baru diperbolehkan berangkat melaut.

Apalagi, belakangan ini cuaca di Laut Jawa semakin sulit diramalkan. Tiap kali ada perubahan yang signifikan atau potensi ombak besar, Pos Angkatan Laut biasanya menyebarkan informasi melalui radio komunikasi. Begitu nelayan mendengar, paling tidak mereka akan siap – siap. Ia mencontohkan seperti saat ini ombak baru setinggi 1 meter dan masih aman untuk berlayar, tapi hanya dalam waktu singkat bisa langsung berubah drastis.

Lettu Hartono mengakui tiap kali musim ombak, peralihan dari angin timur ke angin baratan, cenderung hasil tangkapan ikan meningkat. Mulai dari cumi – cumi hingga kerapu. Tak heran jika nelayan berlomba – lomba mencari ikan. Meski demikian faktor keselamatan juga harus tetap diperhatikan.

Di pelabuhan Tasikagung – Rembang sendiri, tercatat ada 400 an kapal cantrang maupun mini pursesine yang hilir mudik dalam setiap bulannya. Jumlah itu termasuk cukup banyak, lebih – lebih mereka melaut sampai Kalimantan dan terkadang mendekati Sulawesi.

Sementara itu, Sujono, salah satu anak buah kapal (ABK) cantrang mengaku masih beraktivitas seperti biasa. Justru hasil tangkapan yang banyak, menjadi daya tarik tersendiri. Jika semula melaut selama 25 hari, sekarang 20 hari saja sudah mampu memenuhi kuota. Kapal bisa langsung balik bersandar ke Rembang. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *