Flash News
No posts found

300 Juta Dikembalikan Ke Kas Daerah, Oh Ternyata Ini Sebabnya

Warga di Kec. Kaliori mengambil air dari embung. Masih banyaknya stok air, membuat mereka tidak perlu mengajukan bantuan kepada Pemkab.

Warga di Kec. Kaliori mengambil air dari embung. Masih banyaknya stok air, membuat mereka tidak perlu mengajukan bantuan kepada Pemkab.

Rembang – Dana bantuan droping air bersih untuk mengurangi bencana kekeringan sebesar Rp 300 juta tahun ini, dikembalikan lagi kepada kas daerah. Hal itu karena pengaruh musim penghujan yang datang lebih cepat, sehingga di pelosok pedesaan masih banyak stok tampungan air.

Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Rembang, Ahmad Makruf, Senin pagi (07/11) menjelaskan kondisi musim seperti ini memang jauh berbeda, dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Ada kecenderungan periode bulan Oktober – November, BPBD biasanya masih menyalurkan bantuan air bersih ke 80 an desa yang menjadi langganan kekeringan. Bahkan terkadang dana sampai kurang dan harus minta tambahan pada APBD Perubahan.

Tapi khusus tahun ini, sejak musim kemarau antara bulan Juli – November tidak ada satupun desa yang mengajukan bantuan air, karena kebetulan di tengah musim kemarau, sesekali masih turun hujan. Begitu melihat perkembangan curah hujan belakangan ini meningkat, BPBD memutuskan untuk mengembalikan dana bantuan air bersih ke kas daerah, karena tidak terpakai sepeserpun.

Ahmad Makruf menambahkan fenomena semacam ini tak bisa menjadi acuan untuk tahun depan. Bisa saja tahun 2017 musim kemaraunya jauh lebih ekstrem, mengingat elnino dan lanina sering kali bergantian. Maka anggaran bantuan air bersih tetap akan dialokasikan dalam APBD induk tahun 2017.

Sementara itu Sekretaris Desa Sidomulyo Kec. Kaliori, Kiswanto mengaku ketika kemarau panjang, kampungnya selalu dilanda kekeringan. Untuk mengambil air, terpaksa mengungsi keluar desa.

Namun sampai bulan November ini, empat embung besar di desa Sidomulyo masih penuh air dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Pihaknya tidak perlu meminta bantuan air bersih kepada Pemkab. Menurut Kiswanto, embung menjadi solusi tepat bagi desa Sidomulyo, karena kalau mengebor sumur, airnya selalu berasa asin atau payau.

Kiswanto menambahkan embung dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Air embung dialirkan melalui pipa distribusi ke rumah – rumah penduduk. Apabila pemerintah ingin menambah jumlah embung, warga desa Sidomulyo pasti siap menerima dengan tangan terbuka. Lebih – lebih jumlah penduduk terus meningkat, membuat kebutuhan air juga kian besar. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *