Flash News
No posts found

Petani Diberi Tips Caranya Mengusir Babi Hutan Tanpa Kekerasan

Petani menanam ketela di lahan Perhutani perbatasan Kec. Sedan dan Kragan. Akhir – akhir ini serangan babi hutan meresahkan warga desa Tanjungsari Kec. Kragan.

Petani menanam ketela di lahan Perhutani perbatasan Kec. Sedan dan Kragan. Akhir – akhir ini serangan babi hutan meresahkan warga desa Tanjungsari Kec. Kragan.

Kragan – Serangan babi hutan meresahkan para petani di kawasan perbukitan desa Tanjungsari Kec. Kragan. Belasan hektar tanaman jagung, ketela dan pisang rusak. Kondisi paling parah terjadi di sebelah selatan kampung, perbatasan dengan desa Dadapan Kec. Sedan.

Sekretaris Desa Tanjungsari Kec. Kragan, Anwar Soleh, Selasa siang (08 November 2016) menjelaskan babi hutan biasanya menyerang pada malam hari. Keesokan harinya, petani sudah mendapati tanaman kocar – kacir. Tampak sisa – sisa kulit ketela maupun jagung berserakan. Tentu saja para petani merasa jengkel, lantaran jerih payah mereka tak berujung panen. Dari hasil laporan warga, serangan babi hutan semakin parah belakangan ini. Kemungkinan di dalam hutan stok pakan menipis, sehingga kawanan babi hutan turun gunung.

Anwar Soleh menambahkan para petani tak bisa berbuat banyak. Untuk menghalau babi hutan, jelas mereka kesulitan. Lagipula dapat mengancam keselamatan warga, karena datangnya babi hutan selalu berombongan dan rawan sewaktu – waktu mengamuk. Untuk pemberantasan, selama ini belum pernah ada. Harapannya dinas terkait mau menggandeng komunitas pemburu, guna memberikan sosialisasi tentang cara – cara praktis menangani babi hutan. Misalnya dengan sistem penjebakan atau ada alternatif lain. Syukur – syukur pemburu mau datang ke perbukitan Tanjungsari, langsung menembaki babi hutan, agar populasinya tidak semakin merajalela.

Sutrisno, seorang pemburu babi hutan membagikan tips kepada para petani, bagaimana cara mengusir babi hutan. Ia mengutip literatur di internet yang menyebutkan bahwa petani bisa menyiapkan kapur barus dan terasi. Kapur barus ditumbuk halus, kemudian dicampur terasi. Bentuklah bulat – bulat, selanjutnya dibungkus dengan kain hitam. Setelah itu, digantungkan mengitari lahan pada tiang setinggi 30 centi meter atau setara dengan mulut babi hutan. Kombinasi kapur barus, terasi dan kain hitam tersebut dipercaya bisa mengganggu indra penciuman babi hutan. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *