Flash News
No posts found

Banjir Besar, Proyek Pengeboran Migas Diundur

Pengeboran Migas di desa Krikilan Kec. Sumber diundur. (gambar atas) jembatan yang dibuat Pertamina untuk mempermudah akses menuju lokasi proyek terendam banjir, Selasa sore.

Pengeboran Migas di desa Krikilan Kec. Sumber diundur. (gambar atas) jembatan yang dibuat Pertamina untuk mempermudah akses menuju lokasi proyek terendam banjir, Selasa sore.

Sumber – Gara – gara banjir besar, proyek pengeboran Migas di desa Krikilan Kec. Sumber yang awalnya akan berlangsung mulai hari Selasa, tanggal 15 November 2016 diundur Seminggu kedepan.

Sebelumnya, General Manager Pertamina Hulu Energi (PHE) Randugunting II, Abdul Muthalib Masdar menjelaskan masalah cuaca menjadi kendala terberat dalam proyek pengeboran Migas. Kalau tanah lembek, pasti akan berdampak terhadap mobilisasi alat – alat berat. Keselamatan pekerja juga harus diprioritaskan, menyesuaikan dengan situasi lokasi proyek.

Abdul Muthalib Masdar menambahkan apabila curah hujan masih seperti saat ini, tahapan proyek terancam molor semakin lama. Padahal informasi hasilnya sudah ditunggu – tunggu banyak pihak. Mulai dari manajemen Pertamina hingga Pemkab Rembang. Semula pengeboran direncanakan berjalan selama 40 hari, kemudian hasilnya sudah bisa diketahui pada hari ke 17 pengeboran. Apakah kandungannya lebih dominan minyak atau gas.

Tokoh masyarakat desa Krikilan Kec. Sumber, Sukirno mengatakan ketika dirinya memantau proyek Selasa pagi, tiang pengeboran sudah terpasang. Namun belum beroperasi.
Ia memaklumi mundurnya jadwal pengeboran, karena memang hujan terus mengguyur kampungnya. Selasa siang saja, hujan turun sangat deras, sampai dua jam lebih. Banjir bahkan merendam jembatan yang dibangun Pertamina dan merobohkan rumah warga. Banyak pekerja memilih berteduh, sambil memantau perkembangan banjir.

Sukirno berharap penundaan pengeboran tidak molor terlalu lama. Pasalnya, masyarakat desa Krikilan juga merasa penasaran, apakah Pertamina akan bertahan atau sebaliknya hengkang. Mengingat, dalam sejumlah sosialisasi, pejabat PHE Randugunting II sering menyampaikan proyek di desa Krikilan merupakan pertaruhan terakhir, setelah 4 kali mengebor di daerah lain gagal. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *