Flash News
No posts found

Investor Pabrik Sepatu Sempat Ingin Kabur, Kini Sukses Bebaskan Lahan

Aktivitas di pabrik sepatu (ilustrasi). Foto dikutip dari nusantarapjtki.

Aktivitas di pabrik sepatu (ilustrasi). Foto dikutip dari nusantarapjtki.

Rembang – Bupati Rembang, Abdul Hafidz memastikan pembangunan pabrik sepatu jadi berdiri. Lokasinya di lahan sebelah timur Embung Rowosetro. Perkiraan, pabrik membutuhkan tanah seluas 30 an hektar, meliputi lahan pemajekan desa Sridadi, Gedangan, Padaran dan desa Pasar Banggi.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyampaikan pabrik sepatu tersebut akan sanggup menyerap 20 ribu orang tenaga kerja. Tapi perekrutan tenaga kerja digelar secara bertahap. Tahun 2018 baru sekira 5 ribu orang dan akan terus bertambah dari tahun ke tahun.

Menurutnya, muncul tantangan cukup berat, supaya investor pabrik sepatu mau masuk ke Rembang. Salah satunya masalah pembebasan tanah. Semula pemilik tanah memathok harga Rp 125 ribu, namun ketika akan dibayar justru minta naik hingga Rp 300 – 400 ribu per meter persegi. Dirinya sampai harus merayu investor agar tidak lari keluar daerah, sekaligus memohon desa melakukan pendekatan kepada warga, sehingga harga tanah tidak sampai melonjak tinggi. Tujuannya, semata – mata ketika pabrik berdiri, mampu mengurangi pengangguran di Kab. Rembang. Saat ini proses pembebasan lahan sudah selesai. Hafidz berharap masyarakat mendukung iklim investasi yang sejuk di Kab. Rembang.

Bupati asli warga desa Pamotan Kec. Pamotan ini menyadari untuk menggeliatkan ekonomi di daerahnya, saat ini masih menyisakan ganjalan, yakni menyangkut pabrik semen PT. Semen Indonesia di Kec. Gunem belum bisa produksi, gara – gara menunggu Kajian Lingkungan Hidup Stretagis (KLHS) dari pemerintah.

Bupati menyayangkan orang luar Kab. Rembang justru berkoar – koar menolak pabrik semen, tapi di sisi lain pihaknya mempunyai tanggung jawab memajukan daerah. Peristiwa meninggalnya Patmi, warga desa Larangan Kec. Tambakromo Kab. Pati saat aksi di depan Istana Negara Jakarta, menunjukkan betapa kekuatan dari luar daerah seakan – akan mendominasi suara penolakan. Celakanya, muncul informasi bohong, diindikasikan mencemari lingkungan, padahal pabrik semen belum menambang. Hafidz menegaskan bukan berarti membela PT. Semen Indonesia, melainkan ingin memperjuangkan warga bisa bekerja, tetap dengan catatan lingkungan wajib diperhatikan.

Anggota Komisi B Bidang Ekonomi DPRD Rembang, Yudianto mengungkapkan pada umumnya masyarakat mendukung semakin banyak investor besar berlabuh ke Kab. Rembang. Tapi Pemkab juga harus menjamin, nilai manfaatnya lebih besar dibandingkan efek buruknya. Begitu pula soal perizinan, jangan sampai muncul perlakuan beda. Semisal pabrik besar agak diperlonggar, sedangkan skala kecil tak boleh beroperasi sebelum izinnya lengkap. Semua harus memenuhi prosedur, agar tidak memancing kecemburuan. (MJ – 81).

3 Komentar

  1. Julak

    Emang bagus ada banyak investor masuk rembang.tapi kenapa yang dijadikan lahan pabrik sepatu itu tanah produktif karena dekat dengan sumber air.kenapa gak cari tanah yang kurang produktif.sebenarnya para petani banyak yang g mau jual tanahnya untuk pabrik sepatu karena di takut takuti sama pamong ya terpaksa di lepas.

  2. Lunardi

    Turut prihatin kalau masih model paksa memaksa..smoga nggak ada lagi yg kayak gt coy.”’

  3. 寇毅

    你好。 我想问一件事。 Hello。

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *