Flash News
No posts found

Pendidikan Desa Terpencil Masih Miris, Pemerintah Dianggap Hanya Umbar Janji

Guru di SD N II Kajar Kec. Gunem, sebagian memberdayakan warga setempat.

Guru di SD N II Kajar Kec. Gunem, sebagian memberdayakan warga setempat.

Gunem – Kualitas pendidikan di desa – desa pinggiran Kab. Rembang masih memprihatinkan. Selain masalah kekurangan guru berstatus pegawai negeri (kini aparatur sipil negara), kerusakan infrastruktur jalan juga memperparah keadaan.

Salah satunya dialami anak didik di desa Kajar Kec. Gunem. Desa yang berbatasan langsung dengan Kab. Blora ini, dihuni 453 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 1.320 jiwa. Mereka tersebar di dusun Kajar, Jatimalang dan dusun Wuni. Kebetulan ada 2 SD Negeri, yakni di dusun Wuni dan Kajar.

Sumindar, seorang tokoh masyarakat desa Kajar Kec. Gunem mengatakan mayoritas guru yang bertugas di kampungnya, berasal dari Kab. Blora. Itupun jumlah mereka minim. Untuk SD N I Kajar  diperkuat 5 guru plus kepala sekolah, sedangkan SD N II Kajar hanya 4 orang guru pegawai negeri. Karena bertahun – tahun tidak pernah ditambah, akhirnya pihak sekolah memberdayakan pemuda warga sekitar, guna membantu mengajar murid. Kemungkinan guru PNS dari Kab. Rembang sendiri, banyak yang menolak ketika ditugaskan ke desa Kajar, lantaran alasan sangat jauh dari pusat kota. Ia berharap Pemkab Rembang meningkatkan kepedulian terhadap desa – desa terpencil, supaya kualitas pendidikannya lebih baik.

Sumindar menambahkan lulusan SD dari desanya, sebagian melanjutkan ke SMP di Kec. Gunem dan sebagian lainnya memilih sekolah di daerah Jepon, Kab. Blora, karena lebih dekat. Menurutnya, pemerintah sudah sering menyampaikan akan mencurahkan perhatian untuk pendidikan di desa tertinggal. Namun kenyataannya janji itu belum terasa.

Ia mencontohkan kerusakan jalan Kajar – Pasucen. Masyarakat berulang kali mendesak, baru kemudian muncul tanda – tanda akan diperbaiki. Kalau jalan masih berlumpur seperti itu, pasti semakin menyusahkan peserta didik, saat pergi maupun pulang sekolah.

Sementara itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz ketika upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di kawasan Alun – Alun Rembang membacakan sambutan dari Menteri Pendidikan.

Dalam sambutan tersebut dijelaskan bahwa pemerintah mengakui ingin mengejar target kualitas pendidikan yang merata, sesuai amanat UUD 1945. Apabila di sana sini masih ada kekurangan, akan menambah energi bagi pemerintah untuk terus berbuat.

Di akhir peringatan Hardiknas, ratusan pelajar mempertontonkan tarian kreasi pathol, sebagai salah satu kesenian khas pesisir Kab. Rembang. Penampilan siswa dengan pakaian serba hitam itu, menarik perhatian tamu undangan yang hadir. (MJ – 81).

1 Komentar

  1. unyil

    Sejauh pengamatan saya, Pemda Rembang masih belum berkontribusi banyak dalam dunia pendidikan. Apalagi beberapa tahun terakhir, ada beberapa SMP Negeri yang tutup karena tidak mendapatkan siswa yang kemudian diubah menjadi SMK Negeri. Tentunya hal ini adalah kesalahan. Bagaimana mungkin SMP Negeri bisa tutup? Apa kalah kualitas sekolahnya? Apa gurunya yang tidak berkualitas? atau alasan apa yang membuat masyarakat tidak tertarik untuk menyekolahkan anaknya ke SMP N yang sekarang tutup?

    Saya sangat menyayangkan dengan tutupnya beberapa sekolah negeri di wilayah kabupaten Rembang.
    Apa memang benar – benar tidak bisa dibangkitkan lagi?

    Semoga tahun – tahun berikutnya tidak ada lagi penutupan sekolah negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *