Flash News
No posts found

Terbongkar, Kecelakaan Kerja Berimbas Pada Ranking PLTU Sluke

Saksi Yudi Bhagaskara dan Partini disumpah, sebelum menjadi saksi di persidangan kasus kekerasan terhadap wartawan, Selasa siang.

Saksi Yudi Bhagaskara dan Partini disumpah, sebelum menjadi saksi di persidangan kasus kekerasan terhadap wartawan, Selasa siang.

Rembang – Setelah peristiwa kecelakaan kerja yang menelan 2 korban jiwa dan 2 luka parah, ranking Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke langsung anjlok.

Hal itu terungkap dalam persidangan lanjutan kasus kekerasan terhadap wartawan, di Pengadilan Negeri Rembang, hari Selasa (20 Juni 2017). Sidang mendudukkan terdakwa seorang pekerja PLTU Sluke, Suryono (30 tahun), warga desa Grawan kecamatan Sumber, Kab. Rembang.

Pimpinan PLTU Sluke, Yudi Bhagaskara yang dihadirkan sebagai saksi saat ditanya oleh jaksa penuntut umum, bagaimana posisi PLTU Sluke sebelum kasus kecelakaan kerja ? Yudi menjawab ada beberapa kelas PLTU. Jika diukur berdasarkan kelasnya, PLTU Sluke nomor 1 se Jawa dan Bali. Namun setelah peristiwa kecelakaan kerja yang terjadi tanggal 18 Agustus 2016 lalu itu, nilainya langsung dikurangi 10, sehingga sekarang menempati urutan ke 3. Menurutnya, PLTU Sluke beda kelas dengan PLTU Tanjung Jati di Jepara. Alasannya, dari sisi mesin, PLTU Sluke bermesin China, sedangkan PLTU Tanjung Jati mesinnya dari Jepang.

Dalam sidang itu, Yudi juga mengakui sudah berusaha melakukan lobi – lobi, agar masalah kekerasan wartawan saat meliput korban kecelakaan kerja PLTU Sluke di rumah sakit dr. R Soetrasno Rembang, dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Ia menemui pengurus PWI kabupaten Rembang, PWI Jawa Tengah bahkan sampai ke PWI Pusat di Jakarta. Termasuk meminta bantuan Bupati Rembang, Abdul Hafidz untuk memediasi dengan wartawan, namun gagal membuahkan hasil. PWI kabupaten Rembang tetap bersikukuh melanjutkan kejadian itu ke jalur hukum.

Hal senada dibeberkan Partini, saksi lainnya yang saat peristiwa berlangsung menjabat Manajer Administrasi PLTU Sluke. Ia membenarkan ketika ada kecelakaan kerja, mempengaruhi nilai kinerja sebuah PLTU.

Partini kemudian ditanya tentang kronologis kekerasan terhadap wartawan. Ia lebih banyak menjawab tidak tahu, lantaran lebih fokus mengurus biaya dan rujukan korban ke rumah sakit lain.

Jaksa merasa belum puas, lantaran saksi wartawan, Djamal A. Garhan sempat melihat Partini juga turut menghalangi wartawan yang akan masuk ke dalam ruangan korban dirawat. Wanita tersebut membantahnya.

Setelah sidang usai, beberapa wartawan mengkonfirmasi Partini. Saat ditanya bukankah Partini juga menghalangi wartawan selama berada di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit, kenapa mesti berbohong, padahal sudah disumpah di bawah kitab suci Alqur’an ? Partini tak menjawab sedikitpun. Ia buru – buru pergi meninggalkan wartawan. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *